hipnotis, hipnotis hipnoterapis hipnoterapis hypnoterapis hypnotherapis hypnotherapis belajar hypnotis budaya karo,kesehatan, budaya simalungun, hypnoterapi, hipnoterapi, hipnosis, www.josembiring.com

Latest Posts

Thursday, August 18, 2016

Nilai Nama Pada Masyarakat karo

Nilai Nama Pada Masyarakat karo

     1.      Pendahuluan
Nama ? Apalah arti sebuah nama ? kata masyarakat modern. Nama itu di buat dan diberikan kepada seseorang untuk membedakannya dengan orang lain; untuk memudahkan anggota keluarga/masyarakat memanggilnya, menyuruhnya bila perlu. Nama itu dibuat untuk dipakai, untuk disebut, demi kepraktisan dalam hidup sehari-hari.
Tetapi apakah hal itu berlaku bagi semua masyarakat dibawah kolong langit ini, termasuk masyarakat karo? Tidak, sama sekali tidak.
Pada masyarakat karo ungkapan “apalah nama” tidak berlaku sama sekali. Nama bukan hanya mempunyai nilai praktis, tetapi juga mengandung nilai magis. Nama tidak dapat disebut seenaknya saja, ada aturan-aturan yang harus ditaati.


     
      2.      La Tengka nggelar-gelari
Pada masyarakat karo sering kita dengar ucapan “ La tengka nggelar-gelari, turah kari jaung bas igung” yang berarti: “dilarang menyebut-nyebut nama (orang), tumbuh nanti jagung pada hidung”. Ucapan tersebut dipergunakan oleh orang tua untuk menakut-nakuti, untuk mengingatkan, untuk mendidik anak-anak agar jangan menyebut nama orang lain; terlebih nama-nama orang yang lebih tua dari kita; nama orang-orang yang dalam kekerabatan lebih tinggi derajatnya, orang yang harus dihormati, sekalipun mungkin mereka lebih muda usianya dari pada kita.

Menyebut nama orang lebih tua, orang yang patut dihormati sangat terlarang pada masyarakat karo. Dapat mendatangkan akibat buruk, pada orang yang bersangkutan, pada orang yang menamai maupun orang yang dinamai.

Orang yang suka ngelar-gelari adalah orang yang tidak tahu adat, orang yang di benci oleh masyarakat. Oleh karena perbuatannya yang tidak senonoh itu maka banyak orang yang membencinya dan menyumpahinya, agar dia dikutuki oleh roh nenek moyang.


Sebaliknya orang yang igelar-gelari, orang yang disebut-sebuti namanya, dapat menanggung akibat jelek, misalnya megelut tendina” tersinggu rohnya; kecil hati jiwanya. Dengan demikian dia dapat menderita sakit, sebab dia tidak dihormati, tidak disegani oleh orang-orang yang seharusnya menghormatinya.

Hal-hal yang jelek ini harus dihindarkan. Lalu bagaimana kalu kita harus menyebut nama orang yang harus dihormati?. Pendek kata, bagaimana halnya kalau seseorang anak harus menyebut nama ayahnya? Agar tendi “roh” sang ayah tidak tersinggung atau sakit hati, maka sebelum menyebutkan namanya haruslah didahului oleh semacam ucapan yang merupakan mantranya.
Contoh :
Teks :
Gelar bapangku em kap, -- ola melus bulung-bulung  ikerangen, ola mengembur lau ibas uluna, ola bernungen manuk iasuhi, ola birih kambing ipermakan, ola macem pola iriai, ola lambang page isuan – si Dame.

Terjemahan :
Nama ayahku adalah – Jangan layu dedaunan di hutan, jangan keruh air pada sumbernya, jangan sakit-sakit ayam dipelihara, jangan mencret kambing digembalakan, jangan asam nira disadap, jangan hampa padi yang di tanam – si Dame.
           
Bahkan antara pemuda-pemudi yang sedang berkasih-kasihan, yang saling menghormati, bila mereka berhubungan dengan surat biasa pula menggunakan ucapan/mantra seperti tertera diatas, sebelum menyebutkan nama kekasihnya itu.

Dari ucapan atau mantra tersebut dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa akibat jelek dari kebiasaan nggelar-gelari atau menyebut nama orang yang patut dihormati secara serampangan” itu antara lain :

     1.      Dedaunan di hutan dapat layu
     2.      Air di sumbernya dapat keruh
     3.      Ayam yang dipelihara dapat sakit/mati
     4.      Kambing yang digembalakan dapat sakit perut/mencret/mati.
     5.      Air nira yang disadap dapat menjadi asam
     6.      Buah padi yang ditanam dapat hampa (kosong buahnya).

Akibat-akibat jelek ini menyangkut kehidupan masyarakat, dan oleh karena itu tak usah kita heran kalau masyarakat membenci orang-orang yang suka nggelar-gelari.

Memang dari segi pemikiran praktis masyarakat desa dapatlah dimengerti bahwa kalau namanyapun tidak dihormati apalagi orangnya. Mereka beranggapan bahwa jauh lebih mudah menghormati nama daripada orangnya. Kalau melakukan yang mudahpun tidak mau, apalagi melakukan yang lebih susah!.

Itulah sebabnya maka salah satu nasihat orang tua kepada anaknya adalah : “ola nggelar-gelari”, turah kari jaung ibas igung”, jangan suka menyebut-nyebut nama orang yang patut dihormati, tumbuh kelak jagung di hidung.
    
     3.      Penggelarenken

Bila sepasang suami istri telah dianugrahi anak, maka anak pertama atau anak sulung merupakan penggelarenken bagi mereka. Yang disebut dengan penggelarenken adalah “nama anak pertama atau anak sulung yang dipergunakan untuk/sebagai panggilan  bagi sang bapak dan sang ibu”.

Marilah kita umpamakan sepasang suami istri yang mempunyai anak sulung yang bernama jendamalem. Maka penggelarenken sang ayah adalah Pa jendamalem “pak jendamalem” dan penggelarenken sang ibu adalah nande jendamalem atau Ame Jendamalem “Mak jendamalem”.

Pasangan suami istri ini memang mempunyai nama masing-masing. Orang-orang yang lebih tua atau lebih tinggi derajat kekerabatannya dari mereka ini dapat saja langsung menyebut atau memanggil nama mereka. Tetapi sebaliknya orang-orang yang lebih muda atau lebih rendah derajat kekerabatannya, harus memanggil/menyebut suami istri ini dengan penggelarenken mereka, sesuai dengan hubungan kekerabatan yang sebenarnya.

Misalnya : orang-orang yang berkakak kepada mereka, memanggil mereka sebagai berikut :
-          Kaka pa Jendamalem “ abang Pak Jendamalem”
-          Kaka Nande Jendamalem “ kakak Mak Jendamalem”
Yang ber-ipar : silih Pa Jendamalem, “Ipar Pak Jendamalem”
Yang berpaman : bengkila Pak Jendamalem “ Paman Pak Jendamalem”
Yang berbibi : bibi nande Jendamalem, “ bibi Nande Jendamalem”
dan sebagainya.

Perlu dicatat bahwa antara suami dan isteri pun penggelarenken ini biasa dipergunakan. Si istri memanggil suaminya Pa Jendamalem; Sebaliknya suami memanggil istrinya Nande Jendamalem, dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah, dengan menggunakan penggelarenken itu, maka dapatlah dihindarkan penggunaan nama atau gelar seseorang dengan tidak sewajarnya beserta akibat-akibat jelek yang mungkin timbul karenanya.

    4.      Gelar uru-urun
Yang dimaksud dengan gelar urun-urun adalah nama tambahan, nama main-main disamping nama yang sebenarnya. Biasanya nama semacam ini diberikan kepada orang yang belum kawin dan ataupu kepada orang yang sudah kawin tapi belum atau tidak memperoleh anak (jadi tak ada penggelarenken yang dapat dipergunakan).

Pemberian gelar urun-urun kepada seseorang dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, antara lain:
     a.       Berdasarkan singkatan merga
     b.      Dengan sinonim
     c.       Dengan antonym
     d.      Dengan cirri-ciri khusus
berikut ini akan dibicarakan satu persatu:


4.1    Berdasarkan (singkatan)  marga
Pada masyarakat karo terdapat merga silima atau panca marga, yaitu Ginting, KaroKaro, Perangin-angin, Tarigan, dan Sembiring. Setiap anggota masyarakat karo tergolong kepada salah satu merga “marga” ini.
Salah satu cara memberikan gelar urun-urun adalah dengan atau singkatan marga yang bersangkutan. Gelar urun-urun jenis ini bersifat umum, artinya setiap orang yang mempunyai marga tertentu memperoleh gelar urun-urun yang sama.
Sang pria memperoleh gelar urun-urun yang didahului oleh kata “mama” dan sang wanita  “nande

Contoh :
Ginting : untuk laki-laki  : mama iting / Mama Ginting
               Untuk perempuan : nande iting  / Nande Ginting
Karokaro  : untuk laki-laki  : mama karo
                   Untuk perempuan : nande karo
Peranginangin : untuk laki-laki  : mama nangin
                          Untuk perempuan : nande nangin
Sembiring  : untuk laki-laki   : mama biring
                  Untuk perempuan  : nande biring
Tarigan    : Untuk laki-laki   : mama tigan
                    Untuk perempuan   : nande tigan

4.2    Dengan sinonim
Pada umum nya nama-nama orang karo mengandung pengertian atau makna tertentu. Dan biasanya nama-nama itu diambil dari kata-kata atau hal-hal yang umum dalam kehidupan sehari-hari (barulah setelah masuknya pengaruh agama Kristen, agama islam, serta peradapan modern hal tersebut mengalami perubahan)

Salah satu cara untuk memberikan gelar urun-urun itu adalah dengan sinonim (atau kata-kata atau bersamaan artinya) nama orang tersebut. Untuk itu haruslah terlebih dahulu diketahui apa arti nama orang itu, dan kemudia harus dicari sinonimnya. Buat sang pria didahului oleh kata pa “pak” dan sang wanita oleh kata Ame (atau Nande)  “mak”.

Agar lebih jelas, berikut ini kita sertakan beberapa contoh :

Jore “beres”     : pa sikap  (sikap  “beres”)
                         Ame sikap
Galang “besar”             : Pa mbelin (mbelin “besar”)
                                     Ame mbelin
Melam “gurih”            : pa Ntabeh (ntabeh “enak”)
                                     Ame ntabeh
Tabeh “enak”              : pa senang  (senang “senang/enak”)
                                     Ame senang
Jile “cantik”                 : pa Randal (randal “baik”)
                                     Ame randal
            Atau                : pa Mehuli  (mehuli “baik”)
                                     Ame mehuli
Beluh “pandai”           : Pa pentar (pentar “pintar”)
                                     Ame pentar

4.3    Dengan Antonim
Dalam memperbincangkan sesuatu, kita ingin mengetahui persamaan atau perbedaan bahkan pertentangan yang terdapat antara yang diperbandingkan itu.

Cara lain untuk memberikan gelar urun-urun kepada seseorang adalah dengan jalan mencari antonym (atau kosokbali atau lawan kata) nama orang tersebut. Hal ini dimungkinkan oleh banyaknya kata keadaan (atau adjektif) yang dipergunakan sebagai nama oleh orang karo. Disini ternyata bahwa dalam pemberian nama terkandung pula harapan-harapan dari pihak orang tua.

Contoh :
Mbentar  “putih”         : Pa Mbiring (mbiring “hitam”)
                                     Ame mbiring
Mbur “gemuk”            : Pa kertang ( kertang “kurus”)
                                     Ame kertang
Gedang “ Panjang”     : Pa gendek (gendek “pendek”)
                                     Ame gendek
Ciho “Jernih”              : Pa Gembur (gembur “keruh”)
                                     Ame gembur
Jingkat “rajin”             : Pa detdet (detdet “lambat”)
                                     Ame detdet
Turah “tumbuh”          : Pa Ruah (Ruah “cabut”)
                                     Ame Ruah
Beluh “pandai”           : Pa Bebe (bebe “dungu”)
                                     Ame Bebe

4.4    Dengan ciri-ciri khusus
Setiap orang mempunyai cirri-ciri tertentu. Ciri-ciri seperti itu dapat pula dipergunakan sebagai gelar urun-urun, sekalipun tidak ada hubungannya dengan nama yang sebenarnya.

Misalnya ada seseorang yang bernama beluh “pintar”, tetapi karena tubuhnya agak pendek, maka gelar urun-urunnya dibuat oleh masyarakat adalah pa Gendek atau Ame gendek (gendek “pendek”)

Demikianlah terdapat gelar urun-urun seperti :
Pa/ame laga Man (laga man “kuat makan”)
Pa/ame Diker (Diker “pelit”)
Pa/Ame Jingkat (Jingkat “rajin”)
Pa/Ame Cirem (Cirem “senyum”) dan lain lain.

4.5    Dengan hubungan erat
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi bahwa kalau kita menyebut sesuatu kita lantas teringat sesuatu yang lain. Keduanya itu saling berhubungan erat. Dengan cara inipun dapat pula dibuat gelar urun-urun seseorang.
Contoh :
Meja “meja”                : Pa/Ame kursi
Tilam “kasur”              : pa/Ame Bantal
Belo “sirih”                 : Pa/Ame Kapur
Tarum “atap”               : Pa/Ame Sapo (sapo “pondok”)  dan lain-lain.

Monday, August 1, 2016

Sistem Pernikahan Pada Masyarakat Karo


Ada beberapa sistem pernikahan yang ada di Indonesia : 
  1. System endogami. Pada sistem ini seorang hanya diperbolehkan menikah dalam keluarganya sendiri. Contoh perkawinan seperti ini menurut Van Vollenhoven hanya terdapat di Toraja( Surojo Wingnjodipuro, 1973:152) 
  2. Sistem eksogami. Pada sistem ini seorang diharuskan menikah dengan orang diluar merganya (klannya) atau keluarganya. Perkawinan demikian terdapat di daerah-daerah Gayo, Alas, Tapanuli, Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru, Seram ( Surojo Wingnyopuro, 1973, 153). 
  3. Sistem Eleutherogami Pada sistem ini tidak dikenal larangan atau keharusan menikah pada kelompok tertentu. Larangan-larangan yang ada hanyalah yang bertalian dengan ikatan darah atau kekeluargaan (keturunan) yang dekat. Sistem pernikahan ini terdapat di Aceh, Sumatera Timur, Bangka-Belitung, Kalimantan, Minahasa, Sulawesi Selatan, Ternate, Irian Barat, Timor, Lombok, dan seluruh jawa, Madura.
Sedangkan sistem pernikahan pada masyarakat karo terdiri dari : 

Sistem perkawinan pada merga Ginting, Karo-karo, dan tarigan. 
Pada merga-merga ini berlaku perkawinan eksogami murni, yaitu mereka yang berasal dari submarga Ginting, Karo-karo, danTarigan di larang menikah didalam merga-merganya sendiri, tetapi mereka di haruskan menikah dengan orang diluar merganya. Misalnya antara Ginting Karo-karo atau tarigan dan lain-lainnya. 

Sistem perkawinan pada merga perangin-angin dan sembiring 
Sistem perkawinan yang berlaku pada kedua merga ini adalah eleutherogami terbatas. Letak keterbatasannya adalah seseorang dari merga tertentu perangin angin atau sembiring di perbolehkan menikah dengan orang tertentu dari merga yang sama asala submerganya (lineage) berbeda. Misalnya dalam perangin angin, antara bangun dan sebayang atau antara kuta buluh dan sebayang. Demikian juga dengan merga sembiring, antara brahmana dan meliala, antara pelawi dan depari, dan sebagainya.
Larangan perkawinan dengan orang dari luar merga-nya tidak dikenal, kecuali antara sebayang dan sitepu atau antara sinulingga dan Tekang yang di sebut sejanji atau berdasarkan perjanjian. Karena pada tempo dulu mereka telah mengadakan perjanjian tidak saling berkawin. Dengan adanya eleutherogami terbatas ini menunjukkan bahwa merga bukan sebagai hubungan genealogis dan asal usul merga tidak sama.
Syarat-syarat perkawinan pada masyarakat karo. 
Untuk dapat melangsungkan suatu perkawinan, maka para pihak harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu: 
  • Tidak berasal dari satu merga, kecuali untuk merga Perangin-angin dan Sembiring. 
  • Bukan mereka yang menurut adat dilarang untukberkawin karena erturang ( bersaudara), sepemeren, erturang impal. 
  • Sudah dewasa, dalam hal ini untuk mengukur kedewasaan seseorang tidak dikenal batas usia yang pasti, tetapi berdasarkan pada kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab memenuhi kebetuhan keluarga. Untuk laki-laki, hal ini di ukur dengan sudah mampu membuat peralatan rumah tangga, peralatan bertani, dan sudah mengetahui adat berkeluarga ( meteh mehuli). Sedangkan untuk perempuan hal ini di ukur dengan telah akil balik, telah mengetahui adat ( meteh tutur), dan sebagainya. 
Sedang UU no.1/1974 tentang perkawinan menentukan seorang perempuan boleh menikah apabila telah berusia 16 tahun dan laki-laki berumur 19 tahun.


Perkawinan pada masyarakat karo berfungsi untuk :

a. Melanjutkan hubungan kekeluargaan
b. Menjalin hubungan kekeluargaan apabila sebelumnya belum ada kekeluargaaan.
c. Melanjutkan keturunan dengan lahirnya anak-anak laki-laki dan perempuan.
d. Menjaga kemurnian suatu keturunan
e. Menghindarkan berpindahnya harta kekayaan kepada keluarga lain.
f. Mempertahankan atau memperluas hubungan kekeluargaan.





Jenis-jenis perkawinan Berdasarkan jumlah istri dikenal perkawinan monogamy dan poligami.

Perkawinan poligami biasanya terjadi karena :
a. Tidak mendapatkan keturunan 
b. Tidak memperoleh keturunan laki-laki 
c. Saling mencintai 
d. Tidak adanya persesuaian dengan istri pertama 
e. Meneruskan hubungan kekeluargaan

Berdasarkan proses terjadinya, perkawinan dapat dibagi atas perkawinan senang sama senang ( karena percintaan) dan perkawinan atas prakarsa (peranan orang tua) yang biasanya terjadi karena mempertahankan hubungan kekelurgaan atau karena pihak perempuan telah hamil.

Berdasarkan status dari pihak yang berkawin maka perkawinan pada masyarakat pada masyarakat karo di bagi yaitu:

1. Ganci abu ( ganti tikar) 
Ganci abu yaitu bila seorang perempuan menikah dengan seroang laki-laki menggantikan kedudukan saudaranya yang telah meninggal sebagai istri. Hal ini biasanya terjadi untuk meneruskan hubungan kekeluargaan, melindungi kepentingan anak yang telah dilahirkan pada perkawinan pertama dan untuk menjaga keutuhan harta dari perkawinan pertama.

2. Lako man ( turun ranjang)
 Lako man yaitu bila seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang awalnya adalah istri saudaranya atau bapaknya yang terlah meninggal dunia. Adapun jenis-jenis “lako man” adalah: 
  1. Perkawinan mindo nakan Adalah suatu perkawinan antara seorang laki-laki dengan seroang perempuan  bekas istri saudara ayahnya. 
  2. Perkawinan mindo cina Adalah suatu perkawinan antara seorang pria dengan seorang perempuan yang menurut tutur adalah neneknya 
  3. Kawin mindo ciken Adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan bekas istri ayah/saudaranya, yang telah diperjanjikan terlebih dahulu. Hal ini terjadi pada zaman dahulu, dikarenakan seorang perempuan yang masih sangat muda dikawinkan dengan seorang laki-laki yang sudah tua; lalu di perjanjikan sebelumnya bahwa salah seorang dari putra/saudaranya sebagai ciken (tongkat) apabila suaminya kelak meninggal dunia. Alasan adanya perkawinan ini untuk kepentingan keluarga.
  4. Iyan          Pada zaman dahulu bila seseorang mempunyai dua orang istri atau salah seorang diantaranya tidak/belum mempunyai putra (keturunan), di lain pihak salah seorang saudara suami itu belum mempunyai istri, lalu istri yang tidak berputra itu dialihkan/disahkan menjadi istrinya dengan harapan : - Tetap terpeliharanya hubungan kekeluargaan dengan pihak wanita. - Adanya harapan dengan suami baru itu, ia akan memperoleh keturunan. Contohnya Liat dalam Pustaka Kembaren dan cerita antara Pincawan dan Lambing (Sebayang). Inilah yang terjadi pada Sebayang dengan Pincawan dan Kembaren ( Sijagat) dengan Kembaren Perti.
  5. Ngalih,  Adalah lako man kepada isteri abang ( Kaka)
  6. Ngianken Adalah lako man kepada isteri adik ( agi)

3. Piher Tendi/ erbengkila Bana 
 Adalah perkawinan antara orang yang menurut tutur siwanita memanggil bengkila kepada suaminya. Didaerah karo langkat ini di sebut perkawinan piher tendi. Berdasarkan kesungguhan perkawinan, dikenal perkawinan sesungguhnya dan kawin gantung/simbolis (cabur bulung), yaitu suatu perkawinan antara dua orang yang belum cukup umur (anak-anak) yang hanya bersifat simbolis saja. Dengan alas an untuk menghindarkan malapetaka bagi salah satu pihak, yang diketahui dari suratan tangan, mimpi atau petunjuk dari dukun. Atau karena seorang diantaranya sakit.

Proses perkawinan seperti ini sama seperti perkawinan biasa, akibatnya apabila salah seorang pada kemudian hari ingin kawin dengan orang lain, mengharuskan nya untuk:
a. Memberitahukan kepada pihak lainnya.
b. Kalau pihak perempuan ingkar, maka ia harus mengembalikan uang jujuran tempo dulu.
c. Kalo pihak pria yang ingkar, maka ia kehilangan uang jujuran yang telah diserahkannya tempo dulu.


Pelaksanaan perkawinan gantung ada kalanya juga didasari keinginan kedua belah pihak keluarga, agar setelah mereka besar/dewasa benar benar menjadi suami istri.
Berdasarkan kedudukan yang kawin terhadap saudaranya sendiri yang belum/sudah kawin, maka di kenal perkawinan biasa yaitu bila yang kawin itu tidak mendahului kakak-kakaknya untuk berkawin dan perkawinan nuranjang (ngelangkah), yaitu bila seorang/kedua-duanya yang kawin mendahului kakaknya untuk kawin. Dalam hal demikian, untuk menjaga agar yang diilangkahi kawin, jiwa (tendi)nya tidak merasa terganggu, maka bagi adik yang mendahuluinya kawin diwajibkan oelh adat untuk membayar utang (nabei) sebagai mohon doa restu.

Berdasarkan jauh dekat nya hubungan kekeluargaan dari yang berkawin, maka di kenal 4 jenis perkawinan yakni : 

a. Pertuturken
     Perkawinan pertuturken yaitu suatu perkawinan yang dilangsungkan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan; dimana mereka bukan rimpal (ayah siperempuan bersaudara dengan ibu si pria). Perkawinan demikian dibolehkan oleh adat asal tidak ada larangan seperti : erturang ( satu merga) untuk ginting, karo-karo, dan tarigan kecuali peranginangin dan Sembiring, erturang impal, erturang sepemereen atau adanya larangan lain seperti antara sitepu sebayang ( karena janji zaman dahulu)
       Kiranya perlu dicatat bahwa didalam merga peranginangin dan sembiring terjadi perkawinan di dalam satu merga. Contohnya antara: Sebayang Kuta Buluh/Sukatendel, antara bangun sebayang dan sebagainya. Menurut cerita dibolehkan sebayang mengawini beru Kuta Buluh karena ditemukannya subang beru Kuta Buluh yang hilang sewaktu ditempa ( wawancara dengan Gettum).
        Akan tetapi, bagaimana peranginangin Kuta buluh diperbolehkan mengawini beru sebayang di Gunung atau antara Bangun dan Sebayang tidak ada cerita yang memberi keterangan.
       Hal ini menurut hemat penulis dibenarkan karena memang submerga itu tidak berasal dari satu keturunan darah atau karena kesulitan wanita pada waktu itu. Demikian juga halnya pada merga sembiring simantangken biang ( yang tidak makan daging anjing) mereka boleh berkawin sesamanya. Mengenai hal ini diceritakan karena dahulu mereka membakar mayat (pekawaluh) yang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Akibatnya sehabis acara tersebut sering sekali mereka jatuh miskin. Oleh karena itu gadis-gadis luar dari merga sembiring tidak mau kawin dengan mereka ( JH.Neumann 1972:27).
       Cerita kedua mengatakan pada zaman dahulu mereka adalah orang kaya-raya. Mereka takut kalau kawin dengan orang diluar merga-nya. Akhirnya untuk menghindarkan itu mereka membolehkan perkawinan sesame mereka sendiri didalam merganya (wawancara dengan Ngatas Milala) Menurut cerita merga sembiring siman biang (sembiring yang makan daging anjing) seperti keloko, kembaren, dan sinulaki tidak mau kawin di dalam merga sembiring. 
 Akan tetapi didalam praktik seperti terjadi di Limang, Sampe raya , atau di karo jahe, Merga kembaren/Keloko boleh mengawini beru Brahmana.juga perkawinan antara sembiring Pelawi dengan beru sembiring keloko (kembaren) di perbolehkan.
         Jadi kesimpulan bahwa sembiring siman biang tidak kawin dengan sembiring lainnya ternyata tidak benar. Masalahnya sekarang bagaimana menjelaskan ketidaksesuaian antara cerita dengan praktek ini? Ini menjadi bahan pemikiran. Penulis lebih menyetujui pendapat bahwa merga sembiring ini bukan berdasarkan hubungan geneakologis, tetapi bersifat territorial. Oleh karena itu mereka boleh berkawin di dalam merga-nya sendiri seperti pada merga peranginangin. Pada zaman dahulu memang setiap orang selalu mendekatkan hubungan kekeluargaan dengan yang lainnya, karena itu ada cerita yang mengatakan suku karo itu berasal dari putra-putra kakek/nenek yang bernama Karo. Cerita demikian kalau kita teliti asal-usul masing-masing merga apalagi submerge-nya, maka kita tidak dapat menerimanya. 

b. Erdemu Bayu 
Perkawinan erdemu bayu adalah perkawinan antara seorang laki-laki seorang perempuan dimana ayah siperempuan bersaudara dengan ibu silaki-laki. Hubungan antara mereka yang kawin dalam hal ini disebut rimpal. Atau siperempuan di sebut beru puhun atau beru singumban dari silaki-laki dan perkawinan yang demikianlah yang diharapkan oleh adat orang karo. 

c. Merkat senuan 
Perkawinan merkat senuan adalah suatu perkawinan yang dilangsungkan antara seorang laki-laki seorang dara, putri puang kalimbubunya. Perkawinan ini biasanya sangat dihindarkan dan umumnya hanya terjadi dalam hal-hal tertentu saja seperti :
1) Kalimbubu (putranya) tidak mengawini putrid dari puang kalimbubu itu.
2) Kalimbubu tidak mempunyai istri untuk dikawini, maka untuk menghindarkan putusnya hubungan kekeluargaan diadakanlah perkawinan merkat senuan.
3) Kalimbubu tidak memiliki putra untuk mengawini putrid kalimbubunya atau puang kalimbubu dari silaki-laki yang mengawini dara itu.

 d. La Arus 
Perkawinan La arus Adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan menurut adat terlarang seperti mengawini turang, turang impal atau putri anak beru. Untuk terlaksananya perkawinan itu harus ada sanksi adat, seperti terjadi pada rumah empat tunduk di Kuta Buluh. Dimana ia mengawini beru kembaren dari paya enggugung dan karenanya tidak boleh menjadi sebayak di Kuta Buluh. Sebelum Runggu maba belo selembar dimulai, terlebihdahulu diadakan acara nabei ngobah tutur (wawancara dengan Jakup Sebayang dan Peringaten Peranginangin)



 Ditulis ulang dari buku : ADAT KARO,Darwan Prinst, SH, 2008, Bina Media Perintis

Friday, July 15, 2016

insomnia (susah tidur)

Definisi

Hampir setiap orang dari segala usia pernah mengalami masalah kurang tidur, seperti: sulit untuk tidur , cepat terbangun dari tidur dan tidak bisa tidur kembali, berulang kali terjaga dari tidur, tidur dengan tidak nyaman atau gelisah. Gangguan tidur ada banyak jenis, namun dalam bahasa ilmiah, gangguan tidur yang seperti ini disebut dengan istilah insomnia. Semakin bertambah usia, semakin besar kemungkinan seseorang pernah mengalami insomnia. Terutama pada lanjut usia (diatas 65 tahun) yang sebagian besar mengalami gangguan tidur, meski tidak diketahui apakah ini adalah proses normal dari menua ataukah karena faktor lain. Gangguan tidur demikian membuat seseorang tidak memiliki kualitas dan kuantitas (jumlah waktu) tidur yang baik.
Kategori
Insomnia dapat dibedakan menurut durasi munculnya gangguan, sebagai berikut:
1. Transient Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung kurang dari satu minggu.
2. Short -term insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung satu hingga tiga minggu.

3. Chronic Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung lebih dari tiga minggu.

Semakin parah tingkat gangguan maka semakin urgent seseorang perlu melakukan konsultasi medis, baik itu kepada psikolog, psikiater, maupun dokter. Terutama untuk kasus Chronic Insomnia. Namun untuk Transient Insomnia masih dapat dilakukan self help atau usaha-usaha yang dapat dilakukan sendiri untuk mengatasinya.
Mengapa insomnia penting untuk ditangani? Karena insomnia dapat berdampak pada menurunnya totalitas / kualitas diri seseorang dalam beraktivitas dan berfungsi (fisik, emosional, dan intelektual) dalam hidup sehari-hari. Sehingga dapat memunculkan banyak masalah di kesehariannya.
Bagaimana mungkin kualitas dan kuantitas tidur seseorang bisa berdampak pada totalitas atau kualitas diri seseorang? Ini karena tidur adalah salah satu proses yang mengambil peranan penting dalam hidup manusia. Manusia menghabiskan 1/3 waktu hidupnya untuk tidur. Menurut info dari  healthcommunities, bayi hampir selalu tidur di sepanjang harinya sekitar 16 jam sehari; remaja biasanya butuh waktu 9 jam sehari; sementara orang dewasa membutuhkan waktu tidur kurang lebih 7-8 jam sehari. Ini adalah sebuah mekanisme kuat dari dalam tubuh manusia yang bersifat natural. Sama seperti binatang yang juga tidur pada waktu-waktu tertentu. Pernah dilakukan penelitian oleh para ilmuwan terhadap tikus-tikus, mereka berusaha membuat tikus-tikus tetap terjaga, salah satunya dengan jalan secara konstan menyiramkan air dingin ke tubuh tikus, hal ini terus dilakukan akhirnya setelah 14 hari tikus-tikus inipun mati (Dr. Nick Carr, ABC). Demikianlah tidur menjadi salah satu proses dalam kehidupan yang penting. Ketika seseorang tidur, tubuh mengistirahatkan diri dan berproses menciptakan kembali keseimbangan di dalamnya, ini adalah faktor paling penting bagi kesehatan manusia baik itu kesehatan fisik maupun mental.
Gejala
Kita sudah membicarakan pentingnya tidur dalam proses kehidupan manusia. Namun,  bukan sembarang tidur yang  dimaksudkan disini. Karena hanya tidur yang berkualitas lah yang dapat membuat proses dalam tubuh bekerja secara optimal ketika tubuh beristirahat. Pada penderita insomnia, tidur yang berkualitas ini belumlah tercapai. Gejala-gejala orang yang mengalami insomnia adalah antara lain:
·         Gangguan berhubungan dengan aktivitas tidur seperti: sulit tidur, terbangun dari tidur terlalu dini, atau sering terbangun dari sepanjang malam dan tidak bisa tidur kembali, merasa tidak bersemangat / segar / merasa lelah setelah bangun tidur.
·         Mengalami masalah dalam menjalani aktivitas sehari-hari akibat insomnia, seperti: turunnya produktivitas; sering mengantuk di siang hari; sulit/kurang dapat berkonsentrasi dan fokus; sulit mengingat / sering lupa bahkan pada hal yang baru saja dialami; tidak dapat berpikir jernih / objektif - kesulitan memberikan pertimbangan dan mempengaruhi penilaiannya terhadap sekitar; mengalami gangguan koordinasi otot; kurang sigap; mengalami gangguan dalam bersosialisasi (memiliki sedikit hubungan sosial, kurang aktif, mudah tersinggung); mengalami kecelakaan dalam berkendaraan akibat kelelahan atau kekurangan tidur.
·         Pada orang-orang tertentu, masalah sehari-hari semakin memburuk akibat tingkah laku mereka sendiri yang tidak tepat dalam upaya menenangkan diri dari gangguan insomnia, seperti: merokok, minum-minuman beralkohol dan kafeine, serta mengkonsumsi obat-obatan (obat tidut, obat penenang) tanpa resep dokter / kecanduan obat-obatan.
Jika anda mengalami gejala yang disebutkan diatas berarti anda mengalami insomnia. Untuk mengetahui tingkat insomnia yang anda alami, anda harus  memperhatikan durasi munculnya gangguan insomnia tersebut dan kenalilah penyebab munculnya insomnia tersebut pada diri anda. Mengenal penyebab munculnya insomnia juga dapat membantu anda dalam menentukan kategori insomnia yang anda alami.
Penyebab
Menurut Saimak T. Nabili, penyebab insomnia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyebab transient & short-term insomnia; dan penyebab chronic atau long-term insomnia.
Penyebab atau kondisi yang dapat memicu transient & short-term insomnia, antara lain:
Jet lag;
Perubahan shift kerja;
Suara bising mengganggu atau tidak menyenangkan seperti: suara dengkuran;
Temperatur ruangan yang tidak nyaman (terlalu panas ataupun terlalu dingin);
Situasi yang membuat stres (persiapan ujian, kehilangan orang yang dicintai, dipecat, bercerai, perpisahan); 
Menderita penyakit keras atau harus menjalani perawatan di rumah sakit;
Sedang dalam proses penyembuhan medis, seperti: pengobatan dari penggunaan obat-obatan, alkohol, atau kecanduan zat / obat-obatan / bahan-bahan tertentu;
Insomnia terkait dengan ketinggian tempat, seperti di gunung.
Sementara penyebab atau kondisi yang dapat memicu chronic atau long-term insomnia, antara lain:
Kondisi Psikologis: gangguan kecemasan, stres, schizophrenia, mania (gangguan bipolar), dan depresi. Insomnia dalam beberapa kasus menjadi indikator seseorang yang mengalami depresi atau masalah mental.
Kondisi Fisiologis: sindrom sakit kronis, sindrom kelelahan kronis, penyumbatan jantung atau kelumpuhan jantung, night time angina (sakit di bagian dada) akibat penyakit jantung, acid reflux disease (GERD), chronic obstructive pulmonary disease (COPD) / penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), noctural asthma / gangguan asthma pada malam hari, obstructive sleep apnea / penyumpatan saluran napas yang terjadi ketika tidur, degenerative disease (penyakit “kemunduran”) seperti parkinson dan alzheimer (pada kasus ini insomnia seringkali dijadikan faktor pengambil keputusan untuk menempatkan perawatan rumah), tumor otak, stroke, atau trauma otak.
Kelompok beresiko tinggi terkena insomnia travellers / para pelancong, para pekerja shift  dengan shift kerja yang sering berubah-ubah, para lanjut usia, para remaja atau pelajar dewasa muda, wanita hamil, dan wanita menopouse.
Pengobatan medis yang terkait dengan insomnia : obat flu dan asthma tertentu yang bebas dijual maupun yang harus didapatkan dengan resep dokter; pengobatan tertentu untuk tekanan darah tinggi  juga berasosiasi dengan tidur yang kurang; beberapa pengobatan yang digunakan untuk menangani depresi, gangguan kecemasan, dan schizophrenia.
Penyebab lain: kafein dan nikotin berasosiasi dengan tidur yang kurang; alkohol berasosiasi dengan gangguan tidur dan membuat tidur terasa tidak menyegarkan ketika bangun di pagi hari; gangguan dari teman tidur yang mendengkur atau tidak bisa diam (seperti: kakinya bergerak-gerak secara periodik selama tidur) dapat membuat kamu tidak memperoleh tidur malam yang baik / berkualitas.
Demikian kita sudah mengetahui gejala dan penyebab / pemicu insomnia. Selanjutnya seperti sudah disinggung diatas mengenai pentingnya menangani insomnia maka perlu kita ketahui apa saja yang dapat dilakukan guna menangani insomnia. Untuk menangani insomnia yang pertama-tama harus dilakukan adalah mencari tahu / menemukan penyebab terjadinya insomnia. Setelah mengetahui penyebabnya  maka sangat penting untuk mengelola dan mengendalikan masalah tersebut. Sebab seiring dengan teratasi masalah tersebut maka masalah insomnia pun akan terselesaikan.
Penanganan
Menurut Saimak T. Nabili, penanganan insomnia dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan non-pharmacologic / non-medical dan pendekatan pharmacologic / medical. Pendekatan non pharmacologic meliputi: sleep hygienerelaxation therapystimulus control, dan sleep restriction. Pendekatan-pendekatan ini mengacu pada terapi cognitive behaviour. Dan ada juga terapi gizi yang dikemukakan oleh Prof. DR. Ali Khomsan.
Sleep Hygiene: meliputi beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur, antara lain:
-          Tidur secukupnya, sesuai waktu yang butuhkan untuk beristirahat; jangan tidur berlebihan!
-          Berolahraga secara teratur sedikitnya 20 menit setiap  hari, paling baik dilakukan 4-5 jam sebelum waktu tidur. Hindari olahraga berat sebelum tidur!
-          Hindari memaksakan diri untuk tidur
-          Tetapkan jadwal tidur dan bangun setiap hari secara teratur (misalnya: tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi)
-          Jangan minum minuman berkafein setelah sore (teh, kopi, soft drink, dsb) atau hentikan minum minuman berkafein 8 jam sebelum waktu tidur. selain itu kurangi penggunaan kafein.
-          Hindari “night caps” atau minum alkohol sebelum tidur
-          Jangan merokok, terutama di malam hari. Merokok menjelang tidur dapat memicu insomnia. Selain itu, sangat baik untuk mengurangi merokok.
-          Jangan pergi tidur dalam keadaan lapar namun juga hindari makanan berat dan minum berlebihan sebelum waktu tidur - hentikan makan dan mencamil 1 jam sebelum waktu tidur
-          Sesuaikan suasana di ruangan tidur (penerangan, temperatur, bunyi-bunyian, dsb)
-          Jangan pergi tidur bersama dengan kekhawatiran anda; usahakan untuk menyelesaikannya sebelum anda pergi tidur
Relaxation Therapy: teknik ini melatih otot-otot dan pikiran menjadi relax dengan cara yang cukup sederhana seperti: meditasi dan relaksasi otot atau mengurangi cahaya penerangan, dan memutar musik yang menyejukkan tepat sebelum anda pergi tidur.
Stimulus Control: meliputi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu pasien dengan chronic insomnia, antara lain:
-          Beranjak tidur ketika anda merasa mengantuk
-          Jangan menonton TV, membaca, makan, mengerjakan tugas, atau memikirkan kekhawatiran anda di tempat tidur. Tempat tidur hanya boleh digunakan untuk tidur dan melakukan aktivitas seksual.
-          Jika anda tidak tertidur setelah 30 menit beranjak ke tempat tidur, maka bangunlah dan pergi ke ruangan lain kemudian lanjutkanlah teknik relaksasi anda.
-          Aturlah alarm jam anda untuk bangun pada waktu yang telah anda tentukan setiap pagi, lakukan ini bahkan ketika weekends/ akhir pekan. Jangan tidur berlebihan!
-          Hindari tidur terlalu lama di siang hari. Batasi tidur siang anda kurang dari 15 menit kecuali atas arahan dokter. Jika memungkinkan, pilihlah untuk menghindari tidur siang karena ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur anda di malam hari. Kecuali untuk kasus ganguan tidur tertentu yang justru bisa mendapatkan keuntungan dari tidur siang - diskusikan issue ini bersama dokter anda.
Sleep Restriction: membatasi waktu anda di tempat tidur hanya untuk tidur dapat meningkatkan kualitas tidur anda. Atur waktu tidur dan bangun secara rigid dan paksakan diri untuk bangun ketika sudah waktunya sekalipun anda masih mengantuk. Ini akan membuat anda tidur dengan lebih baik di malam sesudahnya sebagai ganti gangguan tidur yang anda alami di malam sebelumnya.
Penanganan sederhana lainnya yang dapat dilakukan, antara lain: Terapi Gizi. Menurut Prof. DR. Ali Khomsan, makanan dan minuman yang dianjurkan dalam rangka menangani insomnia adalah:
Asupan gizi magnesium dan kalsium cukup dapat menangkal imsonia dan mengurangi kecemasan atau stres;
Konsumsi karbohidrat kompleks seperti crackers, atau bagel dapat merangsang rasa kantuk dan membantu anda tidur;
Segelas susu hangat dan madu dapat membuat tidur menjadi lelap;
Makan lettuce atau selada di malam hari dapat mempercepat kantuk.
Pendekatan pharmacologic / medical berarti penanganan insomnia dengan menggunaan obat-obatan dan terapi medis. Beberapa jenis obat yang digunakan dalam menangani insomnia antara lain:
Benzodiazepine sedatives - dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur selama menggunakan pengobatan ini;
Nonbenzodiazepine sedatives; Ramelteon (Rozerem) - obat yang digunakan untuk menstimulasi Melatonin receptors. melatonin - dikeluarkan oleh kelenjar pineal dalam tubuh dan mulai mengalir ketika sinar matahari / cahaya meredup / gelap, fungsinya adalah untuk memerintahkan tubuh untuk istirahat;
Beberapa antidepressant - secara umum tidak terlalu membantu untuk insomnia tanpa depresi;
Antihistamines - menyebabkan kantuk tapi tidak meningkatkan tidur dan tidak tidak dapat digunakan untuk menangani chronic insomnia;
Valeriana officinalis (Valerian) - pengobatan herbal yang digunakan di United States namun belum ada penelitian  yang mampu menunjukkan manfaat nyatanya pada pasien yang mengalami chronic insomnia.
Mengenai manakah yang lebih baik atau efektif dalam menangani insomnia, apakah itu menggunakan pendekatan non pharmacologic ataukah pharmacologic? Tidak ada jawaban rigid akan hal ini. Pada beberapa kasus insomnia yang memang dapat ditangani tanpa perlu melibatkan penggunaan obat-obatan maka akan lebih baik jika cukup menggunakan pendekatan non pharmacologic. Karena dengan demikian pasien dapat terhindar dari efek samping penggunaan obat-obatan. Namun untuk kasus-kasus insomnia tertentu (seperti: insomnia terkait dengan gangguan psikologis berat (schizophrenic), gangguan medis berat (kanker), dan penyalahgunaan obat / narkoba) dimana hasil maksimal atau efektif baru bisa didapatkan dengan melibatkan pendekatan pharmacologic maka kombinasi penggunaan kedua pendekatan non pharmacologic dan pharmacologic menjadi solusi yang baik. Sangat rentan jika pendekatan pharmacologic tidak disertakan dengan pendekatan non pharmacologic karena sangat mungkin muncul ketergantungan pasien terhadap obat sementara pasien diharapkan tidak selamanya harus bergantung pada penggunaan obat. Oleh karena itu pasien juga harus disiapkan secara mental (kognitif dan behaviour) untuk dapat menghadapi insomnia terlepas dari penggunaan obat .
Penyembuhan insomnia sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insomnia yang dialami, ketepatan penanganan yang dilakukan, kondisi medis, dan partisipasi aktif orang tersebut untuk turut serta berjuang menangani insomnia yang dialaminya.
Daftar Pustaka
Amir, Nurmiati. (October 19, 2008). "Tata Laksana Insomnia Insomnia Bisa Terjadi Pada Semua Lapisan Usia, Tak Terkecuali Anak-Anak." Republika Online. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.republika.co.id/koran/104/8619/Tata_Laksana_Insomnia
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Overview." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Types of Sleep Disorders." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Iskandar, Yul. (2009). "Konsultasi Terapi Insomnia." Bisnis Indonesia Online >> Konsultasi. This data retrieved June 09, 2009 from http://web.bisnis.com/konsultasi/4id293.html
Khomsan, Ali. "Terapi Gizi untuk Insomnia."  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=51&Itemid=3
Nabili, Saimak T. " Insomnia." EMedicineHealth. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.emedicinehealth.com/insomnia/article_em.htm 

Popular Posts