Friday, July 15, 2016

beerink

insomnia (susah tidur)

 
Definisi

Hampir setiap orang dari segala usia pernah mengalami masalah kurang tidur, seperti: sulit untuk tidur , cepat terbangun dari tidur dan tidak bisa tidur kembali, berulang kali terjaga dari tidur, tidur dengan tidak nyaman atau gelisah. Gangguan tidur ada banyak jenis, namun dalam bahasa ilmiah, gangguan tidur yang seperti ini disebut dengan istilah insomnia. Semakin bertambah usia, semakin besar kemungkinan seseorang pernah mengalami insomnia. Terutama pada lanjut usia (diatas 65 tahun) yang sebagian besar mengalami gangguan tidur, meski tidak diketahui apakah ini adalah proses normal dari menua ataukah karena faktor lain. Gangguan tidur demikian membuat seseorang tidak memiliki kualitas dan kuantitas (jumlah waktu) tidur yang baik.
Kategori
Insomnia dapat dibedakan menurut durasi munculnya gangguan, sebagai berikut:
1. Transient Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung kurang dari satu minggu.
2. Short -term insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung satu hingga tiga minggu.

3. Chronic Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung lebih dari tiga minggu.

Semakin parah tingkat gangguan maka semakin urgent seseorang perlu melakukan konsultasi medis, baik itu kepada psikolog, psikiater, maupun dokter. Terutama untuk kasus Chronic Insomnia. Namun untuk Transient Insomnia masih dapat dilakukan self help atau usaha-usaha yang dapat dilakukan sendiri untuk mengatasinya.
Mengapa insomnia penting untuk ditangani? Karena insomnia dapat berdampak pada menurunnya totalitas / kualitas diri seseorang dalam beraktivitas dan berfungsi (fisik, emosional, dan intelektual) dalam hidup sehari-hari. Sehingga dapat memunculkan banyak masalah di kesehariannya.
Bagaimana mungkin kualitas dan kuantitas tidur seseorang bisa berdampak pada totalitas atau kualitas diri seseorang? Ini karena tidur adalah salah satu proses yang mengambil peranan penting dalam hidup manusia. Manusia menghabiskan 1/3 waktu hidupnya untuk tidur. Menurut info dari  healthcommunities, bayi hampir selalu tidur di sepanjang harinya sekitar 16 jam sehari; remaja biasanya butuh waktu 9 jam sehari; sementara orang dewasa membutuhkan waktu tidur kurang lebih 7-8 jam sehari. Ini adalah sebuah mekanisme kuat dari dalam tubuh manusia yang bersifat natural. Sama seperti binatang yang juga tidur pada waktu-waktu tertentu. Pernah dilakukan penelitian oleh para ilmuwan terhadap tikus-tikus, mereka berusaha membuat tikus-tikus tetap terjaga, salah satunya dengan jalan secara konstan menyiramkan air dingin ke tubuh tikus, hal ini terus dilakukan akhirnya setelah 14 hari tikus-tikus inipun mati (Dr. Nick Carr, ABC). Demikianlah tidur menjadi salah satu proses dalam kehidupan yang penting. Ketika seseorang tidur, tubuh mengistirahatkan diri dan berproses menciptakan kembali keseimbangan di dalamnya, ini adalah faktor paling penting bagi kesehatan manusia baik itu kesehatan fisik maupun mental.
Gejala
Kita sudah membicarakan pentingnya tidur dalam proses kehidupan manusia. Namun,  bukan sembarang tidur yang  dimaksudkan disini. Karena hanya tidur yang berkualitas lah yang dapat membuat proses dalam tubuh bekerja secara optimal ketika tubuh beristirahat. Pada penderita insomnia, tidur yang berkualitas ini belumlah tercapai. Gejala-gejala orang yang mengalami insomnia adalah antara lain:
·         Gangguan berhubungan dengan aktivitas tidur seperti: sulit tidur, terbangun dari tidur terlalu dini, atau sering terbangun dari sepanjang malam dan tidak bisa tidur kembali, merasa tidak bersemangat / segar / merasa lelah setelah bangun tidur.
·         Mengalami masalah dalam menjalani aktivitas sehari-hari akibat insomnia, seperti: turunnya produktivitas; sering mengantuk di siang hari; sulit/kurang dapat berkonsentrasi dan fokus; sulit mengingat / sering lupa bahkan pada hal yang baru saja dialami; tidak dapat berpikir jernih / objektif - kesulitan memberikan pertimbangan dan mempengaruhi penilaiannya terhadap sekitar; mengalami gangguan koordinasi otot; kurang sigap; mengalami gangguan dalam bersosialisasi (memiliki sedikit hubungan sosial, kurang aktif, mudah tersinggung); mengalami kecelakaan dalam berkendaraan akibat kelelahan atau kekurangan tidur.
·         Pada orang-orang tertentu, masalah sehari-hari semakin memburuk akibat tingkah laku mereka sendiri yang tidak tepat dalam upaya menenangkan diri dari gangguan insomnia, seperti: merokok, minum-minuman beralkohol dan kafeine, serta mengkonsumsi obat-obatan (obat tidut, obat penenang) tanpa resep dokter / kecanduan obat-obatan.
Jika anda mengalami gejala yang disebutkan diatas berarti anda mengalami insomnia. Untuk mengetahui tingkat insomnia yang anda alami, anda harus  memperhatikan durasi munculnya gangguan insomnia tersebut dan kenalilah penyebab munculnya insomnia tersebut pada diri anda. Mengenal penyebab munculnya insomnia juga dapat membantu anda dalam menentukan kategori insomnia yang anda alami.
Penyebab
Menurut Saimak T. Nabili, penyebab insomnia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyebab transient & short-term insomnia; dan penyebab chronic atau long-term insomnia.
Penyebab atau kondisi yang dapat memicu transient & short-term insomnia, antara lain:
Jet lag;
Perubahan shift kerja;
Suara bising mengganggu atau tidak menyenangkan seperti: suara dengkuran;
Temperatur ruangan yang tidak nyaman (terlalu panas ataupun terlalu dingin);
Situasi yang membuat stres (persiapan ujian, kehilangan orang yang dicintai, dipecat, bercerai, perpisahan); 
Menderita penyakit keras atau harus menjalani perawatan di rumah sakit;
Sedang dalam proses penyembuhan medis, seperti: pengobatan dari penggunaan obat-obatan, alkohol, atau kecanduan zat / obat-obatan / bahan-bahan tertentu;
Insomnia terkait dengan ketinggian tempat, seperti di gunung.
Sementara penyebab atau kondisi yang dapat memicu chronic atau long-term insomnia, antara lain:
Kondisi Psikologis: gangguan kecemasan, stres, schizophrenia, mania (gangguan bipolar), dan depresi. Insomnia dalam beberapa kasus menjadi indikator seseorang yang mengalami depresi atau masalah mental.
Kondisi Fisiologis: sindrom sakit kronis, sindrom kelelahan kronis, penyumbatan jantung atau kelumpuhan jantung, night time angina (sakit di bagian dada) akibat penyakit jantung, acid reflux disease (GERD), chronic obstructive pulmonary disease (COPD) / penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), noctural asthma / gangguan asthma pada malam hari, obstructive sleep apnea / penyumpatan saluran napas yang terjadi ketika tidur, degenerative disease (penyakit “kemunduran”) seperti parkinson dan alzheimer (pada kasus ini insomnia seringkali dijadikan faktor pengambil keputusan untuk menempatkan perawatan rumah), tumor otak, stroke, atau trauma otak.
Kelompok beresiko tinggi terkena insomnia travellers / para pelancong, para pekerja shift  dengan shift kerja yang sering berubah-ubah, para lanjut usia, para remaja atau pelajar dewasa muda, wanita hamil, dan wanita menopouse.
Pengobatan medis yang terkait dengan insomnia : obat flu dan asthma tertentu yang bebas dijual maupun yang harus didapatkan dengan resep dokter; pengobatan tertentu untuk tekanan darah tinggi  juga berasosiasi dengan tidur yang kurang; beberapa pengobatan yang digunakan untuk menangani depresi, gangguan kecemasan, dan schizophrenia.
Penyebab lain: kafein dan nikotin berasosiasi dengan tidur yang kurang; alkohol berasosiasi dengan gangguan tidur dan membuat tidur terasa tidak menyegarkan ketika bangun di pagi hari; gangguan dari teman tidur yang mendengkur atau tidak bisa diam (seperti: kakinya bergerak-gerak secara periodik selama tidur) dapat membuat kamu tidak memperoleh tidur malam yang baik / berkualitas.
Demikian kita sudah mengetahui gejala dan penyebab / pemicu insomnia. Selanjutnya seperti sudah disinggung diatas mengenai pentingnya menangani insomnia maka perlu kita ketahui apa saja yang dapat dilakukan guna menangani insomnia. Untuk menangani insomnia yang pertama-tama harus dilakukan adalah mencari tahu / menemukan penyebab terjadinya insomnia. Setelah mengetahui penyebabnya  maka sangat penting untuk mengelola dan mengendalikan masalah tersebut. Sebab seiring dengan teratasi masalah tersebut maka masalah insomnia pun akan terselesaikan.
Penanganan
Menurut Saimak T. Nabili, penanganan insomnia dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan non-pharmacologic / non-medical dan pendekatan pharmacologic / medical. Pendekatan non pharmacologic meliputi: sleep hygienerelaxation therapystimulus control, dan sleep restriction. Pendekatan-pendekatan ini mengacu pada terapi cognitive behaviour. Dan ada juga terapi gizi yang dikemukakan oleh Prof. DR. Ali Khomsan.
Sleep Hygiene: meliputi beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur, antara lain:
-          Tidur secukupnya, sesuai waktu yang butuhkan untuk beristirahat; jangan tidur berlebihan!
-          Berolahraga secara teratur sedikitnya 20 menit setiap  hari, paling baik dilakukan 4-5 jam sebelum waktu tidur. Hindari olahraga berat sebelum tidur!
-          Hindari memaksakan diri untuk tidur
-          Tetapkan jadwal tidur dan bangun setiap hari secara teratur (misalnya: tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi)
-          Jangan minum minuman berkafein setelah sore (teh, kopi, soft drink, dsb) atau hentikan minum minuman berkafein 8 jam sebelum waktu tidur. selain itu kurangi penggunaan kafein.
-          Hindari “night caps” atau minum alkohol sebelum tidur
-          Jangan merokok, terutama di malam hari. Merokok menjelang tidur dapat memicu insomnia. Selain itu, sangat baik untuk mengurangi merokok.
-          Jangan pergi tidur dalam keadaan lapar namun juga hindari makanan berat dan minum berlebihan sebelum waktu tidur - hentikan makan dan mencamil 1 jam sebelum waktu tidur
-          Sesuaikan suasana di ruangan tidur (penerangan, temperatur, bunyi-bunyian, dsb)
-          Jangan pergi tidur bersama dengan kekhawatiran anda; usahakan untuk menyelesaikannya sebelum anda pergi tidur
Relaxation Therapy: teknik ini melatih otot-otot dan pikiran menjadi relax dengan cara yang cukup sederhana seperti: meditasi dan relaksasi otot atau mengurangi cahaya penerangan, dan memutar musik yang menyejukkan tepat sebelum anda pergi tidur.
Stimulus Control: meliputi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu pasien dengan chronic insomnia, antara lain:
-          Beranjak tidur ketika anda merasa mengantuk
-          Jangan menonton TV, membaca, makan, mengerjakan tugas, atau memikirkan kekhawatiran anda di tempat tidur. Tempat tidur hanya boleh digunakan untuk tidur dan melakukan aktivitas seksual.
-          Jika anda tidak tertidur setelah 30 menit beranjak ke tempat tidur, maka bangunlah dan pergi ke ruangan lain kemudian lanjutkanlah teknik relaksasi anda.
-          Aturlah alarm jam anda untuk bangun pada waktu yang telah anda tentukan setiap pagi, lakukan ini bahkan ketika weekends/ akhir pekan. Jangan tidur berlebihan!
-          Hindari tidur terlalu lama di siang hari. Batasi tidur siang anda kurang dari 15 menit kecuali atas arahan dokter. Jika memungkinkan, pilihlah untuk menghindari tidur siang karena ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur anda di malam hari. Kecuali untuk kasus ganguan tidur tertentu yang justru bisa mendapatkan keuntungan dari tidur siang - diskusikan issue ini bersama dokter anda.
Sleep Restriction: membatasi waktu anda di tempat tidur hanya untuk tidur dapat meningkatkan kualitas tidur anda. Atur waktu tidur dan bangun secara rigid dan paksakan diri untuk bangun ketika sudah waktunya sekalipun anda masih mengantuk. Ini akan membuat anda tidur dengan lebih baik di malam sesudahnya sebagai ganti gangguan tidur yang anda alami di malam sebelumnya.
Penanganan sederhana lainnya yang dapat dilakukan, antara lain: Terapi Gizi. Menurut Prof. DR. Ali Khomsan, makanan dan minuman yang dianjurkan dalam rangka menangani insomnia adalah:
Asupan gizi magnesium dan kalsium cukup dapat menangkal imsonia dan mengurangi kecemasan atau stres;
Konsumsi karbohidrat kompleks seperti crackers, atau bagel dapat merangsang rasa kantuk dan membantu anda tidur;
Segelas susu hangat dan madu dapat membuat tidur menjadi lelap;
Makan lettuce atau selada di malam hari dapat mempercepat kantuk.
Pendekatan pharmacologic / medical berarti penanganan insomnia dengan menggunaan obat-obatan dan terapi medis. Beberapa jenis obat yang digunakan dalam menangani insomnia antara lain:
Benzodiazepine sedatives - dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur selama menggunakan pengobatan ini;
Nonbenzodiazepine sedatives; Ramelteon (Rozerem) - obat yang digunakan untuk menstimulasi Melatonin receptors. melatonin - dikeluarkan oleh kelenjar pineal dalam tubuh dan mulai mengalir ketika sinar matahari / cahaya meredup / gelap, fungsinya adalah untuk memerintahkan tubuh untuk istirahat;
Beberapa antidepressant - secara umum tidak terlalu membantu untuk insomnia tanpa depresi;
Antihistamines - menyebabkan kantuk tapi tidak meningkatkan tidur dan tidak tidak dapat digunakan untuk menangani chronic insomnia;
Valeriana officinalis (Valerian) - pengobatan herbal yang digunakan di United States namun belum ada penelitian  yang mampu menunjukkan manfaat nyatanya pada pasien yang mengalami chronic insomnia.
Mengenai manakah yang lebih baik atau efektif dalam menangani insomnia, apakah itu menggunakan pendekatan non pharmacologic ataukah pharmacologic? Tidak ada jawaban rigid akan hal ini. Pada beberapa kasus insomnia yang memang dapat ditangani tanpa perlu melibatkan penggunaan obat-obatan maka akan lebih baik jika cukup menggunakan pendekatan non pharmacologic. Karena dengan demikian pasien dapat terhindar dari efek samping penggunaan obat-obatan. Namun untuk kasus-kasus insomnia tertentu (seperti: insomnia terkait dengan gangguan psikologis berat (schizophrenic), gangguan medis berat (kanker), dan penyalahgunaan obat / narkoba) dimana hasil maksimal atau efektif baru bisa didapatkan dengan melibatkan pendekatan pharmacologic maka kombinasi penggunaan kedua pendekatan non pharmacologic dan pharmacologic menjadi solusi yang baik. Sangat rentan jika pendekatan pharmacologic tidak disertakan dengan pendekatan non pharmacologic karena sangat mungkin muncul ketergantungan pasien terhadap obat sementara pasien diharapkan tidak selamanya harus bergantung pada penggunaan obat. Oleh karena itu pasien juga harus disiapkan secara mental (kognitif dan behaviour) untuk dapat menghadapi insomnia terlepas dari penggunaan obat .
Penyembuhan insomnia sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insomnia yang dialami, ketepatan penanganan yang dilakukan, kondisi medis, dan partisipasi aktif orang tersebut untuk turut serta berjuang menangani insomnia yang dialaminya.
Daftar Pustaka
Amir, Nurmiati. (October 19, 2008). "Tata Laksana Insomnia Insomnia Bisa Terjadi Pada Semua Lapisan Usia, Tak Terkecuali Anak-Anak." Republika Online. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.republika.co.id/koran/104/8619/Tata_Laksana_Insomnia
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Overview." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Types of Sleep Disorders." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Iskandar, Yul. (2009). "Konsultasi Terapi Insomnia." Bisnis Indonesia Online >> Konsultasi. This data retrieved June 09, 2009 from http://web.bisnis.com/konsultasi/4id293.html
Khomsan, Ali. "Terapi Gizi untuk Insomnia."  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=51&Itemid=3
Nabili, Saimak T. " Insomnia." EMedicineHealth. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.emedicinehealth.com/insomnia/article_em.htm 
Read More

Tuesday, June 14, 2016

beerink

Cara Memarahi Anak Dengan Baik

 
Bagaimana sich cara memarahi anak yang baik ?

ati-hati, lo, memberi label/cap negatif pada anak akan membentuk konsep diri yang salah. Pemberian label/cap yang positif semisal "pintar" dan "cantik" juga bisa berpengaruh negatif, lo.

"Kamu ini gimana, sih? Sudah dikasih tahu jangan gangguin adik tapi masih juga diganggu. Kamu ngerti enggak, sih, kalau Mama lagi repot? Dasar anak bandel!"
Sering, kan, mendengar sang ibu atau ayah berkata demikian kala marah pada buah hatinya. Dalam keadaan "lupa diri" akibat emosi yang meluap kerap terlontar kata-kata yang memberi label pada anak. Entah "anak bandel", "anak penakut", "anak cengeng", dan sebagainya.

Menurut ahli, pemberian label/cap atau juga disebut stigma akan memberi bekas dalam diri anak dan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. Karena bagi anak, label tersebut adalah suatu imej diri bahwa aku seperti itu. Jadi, lama-lama akan terbentuk dalam benaknya, "Oh, aku ini bandel, toh."

Apalagi, kata dra. S.Z. Enny Hanum, bila si pemberi label adalah orang yang mempunyai kedekatan emosi dengan anak semisal orang tua atau pengasuhnya, pengaruhnya akan sangat besar dan cepat buat anak. "Anak akan jadi ragu pada dirinya sendiri, Oh, jadi aku seperti itu. Orang tuaku sendiri mengatakan demikian, kok."

JADI NGOMPOL LAGI

Sekalipun di usia prasekolah anak belum memahami makna sebenarnya dari kata-kata label itu, namun ia bisa merasakan sesuatu yang tak nyaman dengan dilontarkannya label itu. "Ia seakan-akan tak diterima dengan adanya label itu, ada sesuatu yang ditolak," terang Enny.
Jadi, anak tak tahu apa itu label baginya. Ia hanya merasakan sebagai sesuatu yang tak mengenakkan, merasa tak nyaman. Namun bukan berarti ia akan diam saja. Ia akan melampiaskan perasaan tak nyaman itu dengan berbagai cara sebagai bentuk protes. Tapi bentuk protesnya berbeda dengan anak remaja yang kalau dibilang "nakal" malah sengaja dibikin nakal, "Ah, sekalian aja aku nakal karena aku sudah kadung dicap demikian." Melainkan dalam bentuk mengompol (padahal sebelumnya anak sudah tak mengompol), mimpi buruk, menangis, menggigit-gigit kuku, menolak mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.

Penting diketahui, perilaku/reaksi demikian juga akan muncul bila anak menemukan suatu situasi yang hampir mirip dengan di rumah. Misalnya, ia diperlakukan tak adil atau tak dimengerti di luar, maka ia akan mengompol lagi, menggigit-gigit kuku lagi, mengambek lagi, dan sebagainya. Tak demikian halnya bila ia menemukan situasi dimana ia merasa dipahami, dimengerti, dan komunikasinya menyenangkan, maka perilaku protesnya tak akan keluar.
Nah, bila anak semakin sering protes dan orang tua pun jadi makin sering marah, tentunya label tersebut akan juga semakin sering dilontarkan. Kalau sudah begitu, lambat laun akhirnya anak percaya bahwa dirinya memang nakal, misalnya. Konsep dirinya jadi salah. Kita tentu tak ingin si Upik atau si Buyung memiliki konsep diri yang salah, bukan?

BERLAKUKAN ATURAN

Itulah mengapa, Enny tak setuju orang tua memberi label pada anak. Jikapun memberi label, "sebaiknya dijelaskan dalam hal apa ia nakal atau jeleknya karena bisa saja anak melakukan sesuatu dalam niatan yang lain," terangnya. Misalnya, ia hendak membuatkan minuman sirup untuk ibunya. Selama ini ia sering melihat pembantunya kalau membuat sirup dengan cara menuang botol sirup ke dalam gelas. Nah, ia pun menirunya tapi ia tak tahu berapa takarannya sehingga dituangnya sirup itu segelas penuh. Si ibu yang melihatnya langsung marah-marah dan mengatakannya nakal, main-main dengan sirup. Padahal, si anak, kan, tidak nakal; ia hanya tak tahu berapa takarannya. Tapi akibatnya, anak jadi tak merasa nyaman, "Aku mau bikin sirup buat Ibu, kok, dibilang nakal?"

Jadi, tandas Enny, orang tua harus menyebutkan apa kesalahan anak sehingga ia dikatakan nakal. "Kalau ia mengganggu adik, misalnya, jelaskan bahwa kamu mengganggu adik padahal waktunya adik tidur. Jadi, anak diberi tahu, nakalnya kamu itu karena mengganggu adik." Dengan demikian anak tahu kenapa dirinya dikatakan nakal, sehingga dapat mencegah terjadinya pembentukan konsep diri yang salah.

Selain itu, lanjut Enny, sebaiknya orang tua juga memberlakukan berbagai aturan di rumah. Bila aturan dilanggar, ada sangsinya; sebaliknya, bila dikerjakan, ada rewards. Tentu sebelumnya aturan tersebut sudah dibicarakan dengan anak sehingga ia memahaminya. Misalnya, sebelum tidur ada aturan harus gosok gigi. Nah, bila dikerjakan, berilah pujian. Tapi bila dilanggar, jangan buru-buru bilang, "Dasar kamu anak nakal, sukanya melanggar aturan," melainkan tanyakan dulu, "Kenapa kamu enggak gosok gigi?" Siapa tahu lantaran odolnya terlalu pedas buat anak atau mulutnya lagi sariawan.

Kemudian, sebelum memberi sangsi, orang tua juga harus memberitahukan letak kesalahannya. Misalnya, ia mengambil mainan adiknya. "Biasanya anak melakukannya karena spontanitas bermain. Nah, orang tua bisa memberitahukan, Kamu mengambil milik adikmu, itu enggak boleh. Kamu harus minta izin dulu. Kalau kamu terus melakukan perbuatan itu, nanti kamu jadi anak nakal." Jadi, anak diberi tahu perilaku apa yang menyimpang.
Anak usia prasekolah, tutur konsultan psikologi anak dan keluarga ini, sudah bisa mengerti asal diberi tahu dengan bahasanya. "Kalaupun tak mengerti, orang tua harus mengulang-ulang lagi. Bukankah proses mendidik tak bisa sekali jadi melainkan harus terus-menerus?"

LABEL POSITIF
Selain memberikan label negatif, tak jarang orang tua juga memberikan label positif semisal "anak pintar", "anak cantik", "anak manis", dan sebagainya. Dibanding label negatif, pemberian label positif akan berdampak positif pula, yaitu memberi sugesti atau memacu anak untuk berperilaku seperti apa yang disebutkan. Misalnya, label "anak pintar". "Bagi anak, apa yang dilontarkan itu seolah-olah harapan orang lain padanya, sehingga ia pun akan berusaha untuk jadi anak yang pintar," tutur Enny. Jadi, label positif semacam rewards buat anak, "Oh, ternyata aku anak pintar," sehingga motivasinya besar sekali untuk belajar dan menjadi pintar.

Tapi, jangan salah, lo, pemberian label positif tak selamanya akan berdampak positif pula. "Pemberian label positif juga bisa berdampak negatif. Antara lain, anak jadi kehilangan spontanitasnya karena ada dorongan untuk memenuhi harapan orang tua. Padahal, spontanitas inilah yang menjadi ciri anak seusianya." Misalnya, ia selalu dikatakan sebagai anak manis sehingga ia pun mencoba untuk memenuhi harapan tersebut. Dalam berbagai pertemuan, ia harus menahan diri agar berperilaku sebagai anak manis. Bila anak lain berlarian ke sana ke mari dengan bebas, misalnya, ia akan duduk manis bak putri kerajaan. "Hal itu dilakukannya karena ia ingin menyenangkan orang tuanya, memenuhi harapan orang tuanya sebagai anak manis".

Jangan lupa, ingat Enny, pada usia prasekolah konsep diri anak masih kabur. "Ia belum punya kesadaran, aku ini siapa? Konsep dirinya sedang dibentuk sehingga aku ini kekurangannya di mana tak diketahuinya." Oleh karena itu, bila terjadi hal demikian, saran Enny, orang tua harus segera memperbaikinya. "Terangkan pada anak bahwa ia keliru menangkap maksud orang tua." Katakan, misalnya, "Yang Bunda maksud manis itu bukan berperilaku seperti itu." Lalu jelaskan "manis"nya itu seperti apa dan bahwa ia masih punya hak untuk bermain, "Kalau dalam acara pernikahan, kamu memang boleh bersikap demikian karena itu adalah bagian dari tata krama. Tapi di luar pesta perkawinan, kamu tak harus selalu bersikap demikian. Kamu bebas berlarian dan bermain bersama teman-temanmu." Dengan demikian, anak tahu persis kapan ia harus bersikap manis dan sikap manis seperti apa yang dikehendaki orang tuanya.

Label positif juga akan berdampak negatif bila tak sesuai realitasnya. "Bila anak terus menerus ingin memenuhi harapan orang tuanya sementara kemampuannya tak ada, tentu bisa melelahkan dan membuatnya frustrasi," terang Enny. Memang, orang tua bermaksud baik dengan memberikan label positif walupun orang tua tahu tak sesuai realitasnya, yaitu demi mendorong agar anak jadi pintar atau rajin. "Tapi kalau orang tua memberikan label diluar ukurannya, anak jadi kurang kepercayaan dirinya. Misalnya, ia obesitas atau kegemukan tapi orang tuanya bilang ia anak cantik, langsing, dan sebagainya," lanjutnya. Konsep dirinya juga jadi salah, kan!

Jadi, Bu-Pak, hati-hati, ya, dalam memberikan label positif dan terlebih lagi label negatif.
Read More
beerink

Hukuman anak Nakal

 
Bagaimana kah menghukum anak yang nakal??

Memberikan hukuman pada anak memang baik, namun jika di lakukan dengan cara yang salah ,, maka akan memberikan dampak yang sebaliknya. Nah, bagaimana sebaiknya?

Menurut penelitian, menurut penelitian antara Kritikan dengan pujian dalam sehari perbandingannya  46 : 7 .  artinya lebih banyak kritikan kita berikan kepada anak dari pada pujian. Duh, betapa "malang"nya si kecil!
Tapi, kenapa, sih, orang tua menghukum anak? Ada dua alasan, seperti dipaparkan psikolog Ery Soekresno.
Pertama, karena orang tua punya target atau standar tingkah laku untuk anaknya, "Namun ternyata standar itu tak dilakukan oleh anak."
Kedua, ada tingkah laku tertentu yang ingin dihentikan oleh orang tua. "Mungkin tingkah laku itu baik, tapi karena berlebihan, jadi harus dihentikan."

Selain itu, lanjut Ery, orang tua juga sering menghukum anak karena tak punya alternatif lain untuk menghentikan suatu tingkah laku anak.

HUKUMAN "SESUAI" KESALAHANNYA

Menurut Ery, hukuman sudah bisa diberikan sejak sedini mungkin, yakni saat anak mulai membangkang. "Misalnya, nggak mau mandi, nggak mau makan, dan sebagainya. Pokoknya, apa saja enggak! Nah, itu berarti ia sudah mulai membangkang."
Namun dalam memberi hukuman, Ery mengingatkan, haruslah disesuaikan dengan "kesalahan" si anak. Misalnya, anak asyik menonton VCD sampai lupa waktu. Nah, hukumannya adalah ia dilarang menonton lagi. "Tapi jangan langsung melarangnya nonton VCD selama 3 bulan, misalnya. Itu namanya sewenang-wenang. Cukup misalnya, kalau hari ini nonton terlalu lama maka besoknya ia tak boleh nonton lagi."
Kemudian, beri anak kesempatan. Misalnya, setelah dihukum sehari, esoknya ia diperbolehkan menonton VCD lagi namun dibatasi cuma menonton satu judul. "Kita lihat, apakah anak bisa menepati janji. Kalau ternyata enggak bisa, esoknya jangan izinkan si anak menonton lagi." Kalau besok ia bisa menepati janji, berilah bonus boleh menonton dua judul.
Yang harus diperhatikan, ujar Ery, saat memberi hukuman kita juga harus melihat diri sendiri. Maksudnya, tega apa enggak. "Kalau enggak tega, ya, jangan beri hukuman yang berat-berat. Nanti kita malah jadi enggak konsekuen." Akibatnya, kita bisa dijadikan bulan-bulanan oleh anak. Celaka, kan!
Sering terjadi, kita suka mengancam anak, "Awas, kalau Kakak nakal lagi, nanti Bunda pergi." Tapi sering pula ancaman tersebut tak kita lakukan. Nah, cara seperti ini, menurut Ery, akan membuat anak memandang rendah ancaman. "Ah, paling Bunda cuma ngomong doang," begitu pikir si anak. "Jangan salah, lo, kemampuan anak untuk mengobservasi gerak tubuh dan mimik orang tua sangat tajam," kata Ery yang tak setuju orang tua menerapkan ancaman.
Jadi, tandas Ery, kalau memang kita sedang marah, ya, marahlah beneran. Jangan kita marah tapi muka tersenyum. Sebaliknya, jangan pula kita bilang sayang tapi nyubit atau memukul. "Itu, kan, nggak sinkron. Orang tua harus belajar membedakan antara marah dan sayang."
Yang tak kalah penting, tambah Ery, jangan pernah memberi label jika ada tingkah laku anak yang tak sesuai. "Orang tua harus memisahkan tingkah laku dan pelakunya. Tapi yang terjadi, kadang orang tua tak sadar dan membenci pelakunya."

DISIPLIN 
Sebenarnya Ery lebih setuju kita menerapkan konsekuensi ketimbang hukuman. Sebab, konsekuensi berkaitan dengan disiplin, tak demikian halnya dengan hukuman. "Orang tua sering menyamakan kedua hal ini, padahal sebenarnya berbeda sekali.
Hukuman adalah kontrol dari luar, sedangkan disiplin adalah kontrol dari anaknya sendiri," terangnya.
Disiplin atau disciple dalam bahasa Latin berarti belajar. Jadi, disiplin memberikan pelajaran kepada anak tentang bagaimana bertingkah laku yang seharusnya. "Dalam disiplin ada aturan, komunikasi dan penguat positif. Kalau aturan dijalankan dengan baik, anak akan mendapat hadiah. Misalnya, dipuji, dipeluk dan sebagainya, yang bisa memperkuat tingkah laku baik si anak." Sebaliknya, bila anak tak menjalankan aturan, ia akan mendapat konsekuensi.
Dengan disiplin, kita juga sekaligus menyatakan harapan kita kepada anak. "Biasanya anak akan merasa nyaman, tenang, dan damai, karena ia tahu apa yang diharapkan oleh orang tuanya." Misalnya, "Bunda ingin Kakak membereskan mainan setelah bermain." Atau sebelum bertamu ke rumah orang, kita bisa bilang, "Kita akan bertamu di rumah orang. Kalau belum dipersilakan, Kakak enggak boleh mengambil makanannya dulu, ya."

Disiplin harus diterapkan sejak dini dengan memperkenalkan beberapa aturan. Misalnya, melarang anak menyentuh stop kontak. "Tapi untuk anak yang masih dini, sebaiknya ruanganlah yang didisiplinkan," ujar Ery. Maksudnya, kita harus menciptakan lingkungan yang aman buat anak. Misalnya, kalau kita ingin vas bunga tak dipecahkan oleh anak, maka pindahkan vas tersebut ke tempat yang lebih aman. "Daripada orang tua bolak-balik bilang jangan ke anak."
Lain halnya pada anak yang lebih besar, orang tua harus mulai memberi aturan. Misalnya, "Kakak tak boleh memukul Adik karena dipukul itu sakit. Konsekuensinya, kalau Kakak memukul Adik berarti Kakak harus bermain sendiri." Atau, anak melempar mainannya, katakan, "Tidak boleh melempar-lempar mainan, karena mainan bisa rusak. Kalau Kakak melempar lagi, akan Mama ambil mainan itu untuk disimpan."

Jadi, tandas Ery, kita harus selalu berada dalam posisi membantu anak untuk bertingkah laku baik. "Jangan langsung memberi hukuman. Tapi ajarkan sebab-akibatnya, bahwa kalau ia bertingkah laku tertentu maka konsekuensinya begini."

KONSEP DIRI NEGATIF
Hukuman, terang Ery, hanya memberi tahu anak tentang kesalahannya tapi tak memberi tahu bagaimana ia seharusnya bertingkah laku. "Anak hanya tahu bahwa ia salah, tapi setelah itu so what, lalu apa? Ia tak diajarkan harus bagaimana."
Apalagi jika anak sampai diberi hukuman fisik yang juga disertai kata-kata menyakitkan. "Itu bisa membuatnya sakit hati, merasa direndahkan dan tak diberi kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakunya." Biasanya anak akan tumbuh menjadi pendendam lantaran ia tak pernah didengar dan dihargai. "Mereka juga cenderung tak bisa menyelesaikan masalah dengan baik tapi dengan hukuman juga." 
Yang lebih parah, hukuman dapat merusak konsep diri anak. "Anak jadi memiliki konsep diri negatif sehingga membuatnya tak percaya diri. Bawaannya takut melulu, enggak berani tampil, takut salah, dan sebagainya. Ia merasa bahwa yang ia miliki adalah kejelekan. Ia tak bisa menemukan aspek positif dari dirinya," papar Ery.

Ery mengingatkan, usia 3 sampai sekitar 6 tahun merupakan usia pembentukan (formative years) dan biasa disebut sebagai masa keemasan (golden years) seorang anak. "Masa ini tak mungkin terulang," tukasnya. Nah, bila di masa ini anak sering dihukum berarti ia banyak dilarang. Otomatis, kebutuhan anak untuk menjelajah, berinisiatif dan memupuk rasa ingin tahu menjadi terhambat. "Anak jadi tak punya inisiatif dan tak punya pendirian."

Dampak lainnya, anak menjadi conform, selalu berpendapat sama dengan orang lain. "Ia takut berbeda dengan orang lain. Karena kalau berbeda, ia takut diomeli." Disamping, potensi anak tak terealisir. "Anak jadi tak kreatif. Ia akan takut mencoba karena sudah penuh dengan ancaman."

sedangkan menurut penulis sendiri point yang paling utama dalam membimbing anak adalah dengan memberikan sugesti sugesti positif dalam diri anak ,,, Pola bahasa yang tepat merupakan kunci dalam mengarahkan anak,,,

mari kita analisa kata-kata ini :

JANGAN bayangkan seekor anak gajah yang belalai nya panjang dan telinganya lebar...

Bagaimana ?? apakah kita sebagai orang tua malah membayangkan anak gajah tersebut ?? benar bukan ?? itu arti dalam pikiran kita ,, terutama pada pikiran anak sebenarnya tidak mengenal perintah negatif,,  jadi sebaiknya berikan saran yang bersifat positif,,,,

bagaimana dengan pernyataan :
 Coba bayangkan seekor anak bebek berwarna putih dengan jalan yang lenggak lenggok.
dengan membayangkan bebek tersebut apakah anda membayangkan anak gajah ???

Jadi mana lebih baik :  pernyataan JANGAN MALAS ya nak ,,    atau  JADI ANAK RAJIN ya nak ,,
mungkin kita sudah tau jawaban nya ,,,


POPULER DI KALANGAN TEMAN

Lain halnya dengan disiplin, anak akan tahu apa konsekuensi dari tingkah lakunya. "Sehingga anak akan selalu memandang bahwa berbuat baik itu menyenangkan dan berbuat tak baik itu tak menyenangkan," bilang Ery.
Merujuk data penelitian, orang tua yang banyak melatih anak dengan batasan-batasan dan konsekuensi, biasanya akan memiliki anak yang lebih populer di kalangan teman-temannya. "Karena mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan, kontrol dirinya bagus, tak mudah diombang-ambingkan orang."
Anak-anak yang demikian, lanjut Ery, memiliki prinsip dan biasanya kelak menjadi pemimpin. "Mereka tahu bahwa mereka punya kelebihan tapi juga punya kekurangan. Berbeda dengan anak-anak yang sering dihukum, tahunya cuma dirinya jelek saja."
Akhirnya Ery menyarankan kita agar mencoba untuk lebih sabar dan lembut dalam menghadapi anak. "Ini memang susah. Tapi ingatlah, kesabaran kita akan berbuah bahwa anak kita juga akan menjadi orang yang sabar."

Jika anak nakal.. Maka yang salah adalah ?????
Anak adalah "potret" orang tua. Iya, kan!
Read More

Monday, June 13, 2016

beerink

Kanker ovarium adalah

 
Setiap wanita memiliki 2 ovarium, yang masing-masing terletak di sebelah uterus. Ukuran ovarium sebesar buah almond, ovarium memproduksi telur dan hormon seks wanita seperti estrogen dan progesteron. Kanker ovarium terjadi saat pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan kebiasaan yang abnormal, sehingga mengakibatkan terbentuknya tumor pada salah satu atau kedua ovarium.(1)
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histogenesis yang beraneka ragam. Ditemukan sebanyak 8% dari seluruh tumor ganas ginekologik dan diperkirakan 15-25% dari semua tumor ovarium bersifat ganas. Dapat ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia 50 tahun ke atas. Pada masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada usia lebih muda jarang dilihat. Faktor predisposisi ialah tumor ovarium jinak.(1)

Kanker ovarium merupakan kanker terbanyak ke-6 pada wanita. Di Amerika Serikat, sekitar 23.000-25.000 kasus baru didiagnosa setiap tahunnya. Perkiraan insidensi pada 1 tiap 70 wanita mengalami kanker ovarium sepanjang hidupnya. Kanker ovarium sebesar 4% dari seluruh kasus baru kanker. (2,4)
Angka harapan hidup akan lebih baik bila ditemukan pada stadium awal. Tetapi karena penyakit ini sulit dideteksi pada stadium awal, hanya 25% kanker ovarium ditemukan sebelum menyebar pada jaringan dan organ di sekitar ovarium. Seringkali penyakit ini terlebih dahulu menyebar sebelum terdiagnosa. Hal ini yang seringkali menyebabkan kematian akibat dari gejala dan tanda penyakit tersebut yang tidak diketahui (4)
.


DEFINISI


Kanker merupakan tumor ganas dimana terjadi perubahan dalam biologi sel, khususnya nukleus, dan ciri ini ditransmisikan dari sel ke sel melalui generasi-generasi secara tak terbatas.(2) Sel tersebut memiliki derajat pertumbuhan yang mandiri yang lebih besar daripada yang dimiliki oleh sel asalnya. Oleh karena itu, kanker dapat dianggap sebagai kumpulan (massa) sel yang berbeda tidak saja dari sel normal, tetapi juga yang satu dengan yang lain dan dimana terus-menerus timbul bentuk baru sebagai hasil pembelahan sel yang irreguler.(3)
Setiap wanita memiliki 2 ovarium, yang masing-masing terletak di sebelah uterus. Ukuran ovarium sebesar buah almond, ovarium memproduksi telur dan hormon seks wanita seperti estrogen dan progesteron (gambar 1). Kanker ovarium terjadi saat pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan kebiasaan yang abnormal, sehingga mengakibatkan terbentuknya tumor pada salah satu atau kedua ovarium.


Gambar 1. Anatomi organ reproduksi wanita

EPIDEMIOLOGI


Kanker ovarium merupakan keganasan dalam bidang ginekologi yang paling mematikan. Insidensinya meningkat secara gradual dan mencapai puncaknya pada usia sekitar 70 tahun, dimana pada wanita kulit putih 55 per 100.000 tetapi sangat rendah pada wanita kulit hitam. Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita. Insidensi rata-rata dari semua jenis diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya.(4)
Di Amerika Serikat, kanker ovarium merupakan keganasan ginekologi yang paling banyak menyebabkan kematian. Cancer statistics 2006 melaporkan bahwa sekitar 20.180 kasus baru kanker ovarium terdiagnosa tiap tahun dan sekitar 15.310 mengalami kematian. Besarnya angka kematian tersebut dikarenakan sifat dari kanker ovarium yang asimtomatik sehingga sering disebut The Silent Killer. Secara umum insidensi kanker ovarium di US adalah 33 kasus per 100.000 orang yang berusia 50 tahun. Rata-rata pasien tersebut terdiagnosa pada usia 57 tahun. Sepanjang hidupnya, wanita memiliki resiko untuk terkena kanker ovarium adalah 1 kasus dari 70 wanita.

PENYEBAB


Sampai dengan saat ini belum diketahui apa penyebab dari kanker ovarium. Para peneliti hanya dapat mengetahui beberapa faktor resiko yang dapat merupakan faktor predisposisi terjadinya kanker ovarium. Sejumlah teori telah banyak diajukan untuk menjelaskan sebab terjadinya kanker ovarium. Mereka berpendapat bahwa keganasan ini berhubungan dengan seringnya terjadi ovulasi, dan karena itu wanita yang mengalami ovulasi secara regular merupakan kelompok resiko tinggi. Sedangkan Schildkraut mengamati korelasi antara over ekspresi dari protein p53 yang mengalami mutasi (mutan) pada kanker ovarium dengan riwayat reproduksi dan menemukan bahwa over ekspresi lebih sering ditemukan pada mereka dengan riwayat siklus ovulasi yang tinggi.(5)

PATOLOGI


Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya itu dapat menjadi besar tanpa disadari oleh penderita (gambar 2). Karsinoma ovarium dapat menyebar dengan perluasan lokal, invasi limpatik, implantasi intraperitoneum, penyebaran hematogen, dan jalur transdiafragmatika (gambar 3). Penyebaran intraperitoneum sering ditemukan dan merupakan karakteristik kanker ovarium. Sel maligna dapat berimplantasi di berbagai tempat di rongga peritoneum namun seringkali berimplantasi pada lokasi dimana terjadi stasis cairan peritoneum. Penyebaran hematogen secara klinis biasanya jarang, meskipun hal ini tidak jarang pada pasien dengan perkembangan penyakit. Mekanisme penyebaran ini merupakan rasionalisasi stadium untuk dilakukan tindakan pembedahan. (2)


Gambar 2. Pembesaran Ovarium yang sering tidak disadari
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal, dan mesodermal) dengan sifat-sifat biologis maupun histologis yang beraneka ragam. Oleh karena itu histiogenesis maupun klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan. Klasifikasi kanker ovarium yang paling sering digunakan secara luas adalah berdasarkan World Health Organization dan frekwensi terjadinya masing-masing tipe dapat dilihat pada tabel 1. Tiga tipe dasar dari tumor dibuat berdasarkan dari asal dan bentuk tumor(4):
  • Tumor Epitelial, kira-kira 90% dari kanker ovarium, berkembang di epitelium, lapisan tipis dari jaringan yang menutupi ovarium. Umumnya terjadi pada wanita post-menopause.
  • Tumor sel germinal, tumor ini terjadi pada sel-sel yang memproduksi telur dari ovarium dan umumnya terjadi pada wanita muda.
  • Tumor stroma, tumor ini berkembang pada jaringan yang memproduksi estrogen dan progesteron yang mempengaruhi ovarium secara bersama-sama.
Table 1. Klasifikasi dan Frekwensi Ovarian Neoplasms (World Health Organization Classification)


Gambar 3. Kanker Ovarium Stadium Dini

FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko wanita mengalami kanker ovarium, dimana secara umum dapat dilihat pada tabel 2. faktor-faktor tersebut antara lain yaitu: (4,7)
o Mutasi gen yang diturunkan (inherited)
Faktor resiko yang paling signifikan dalam menimbulkan kanker ovarium adalah terjadinya mutasi pada salah satu dari dua gen yang disebut breast cancer gene 1 (BRCA 1) dan breast cancer gene 2 (BRCA 2). Kedua gen ini didapatkan pada keluarga yang menderita kanker payudara, namun demikian kedua gen tersebut juga bertanggung jawab sekitar 5-10 % terhadap terjadinya kanker ovarium. Selain itu gen-gen lain yang dapat meningkatkan resiko kanker ovarium adalah Hereditary Non Polyposis Colorectal Carcinoma (HNPCC). Seseorang yang dalam kelurganya memiliki HNPCC meningkatkan resiko terhadap terjadinya kanker pada lapisan endometrium, colon, ovarium, lambung dan usus halus. Namun demikian kanker ovarium lebih kuat hubungannya dengan BRCA dibanding HNPCC. (lihat gambar 4).

Gambar 4. Persentase penyebab genetik dan persentase gen-gen yang didapatkan pada kebanyakan pasien yang beresiko.


o Usia
Kanker ovarium biasanya terjadi setelah menopause, dan wanita yang berusia lebih dari 60 tahun memiliki resiko tertinggi. Walaupun demikian, wanita pre-menopause juga tetap beresiko untuk mendapatkan kanker ovarium.

Table 2. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium.

o Riwayat Keluarga
Kadang-kadang kanker ovarium dapat terjadi pada lebih dari satu anggota keluarga tetapi pada mereka tidak didapatkan adanya gen-gen mutasi yang diturunkan. Bila seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium akan meningkatkan resikonya terhadap kanker ovarium, namun tentunya dengan derajat yang lebih kecil dibandingkan bila terdapat gen-gen mutan yang diturunkan. Seseorang dengan keluarga pada derajat pertama (ibu, saudara perempuan atau anak perempuan) menderita kanker ovarium akan meningkatkan resiko sebanyak 5 % sepanjang hidupnya.
o Status/Paritas
Wanita yang pernah mengalami hamil setidaknya 1 kali memiliki resiko yang lebih rendah mendapatkan kanker ovarium. Penggunaan kontrasepsi oral menunjukkan perlindungan untuk mendapatkan kanker ovarium. Penggunaan obat-obat penyubur yang digunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat meningkatkan resiko kanker ovarium, begitu juga dengan penggunaan Hormon Replacement Therapy (HRT).
o Infertilitas
Jika terdapat masalah infertilitas atau mendapatkan anak pertama pada usia yang lanjut memiliki resiko yang meningkat mengalami kanker ovarium. Walaupun hubungan ini belum dapat dipahami namun banyak ahli mendukung teori ini.
o Obesitas
Wanita yang mengalami obesitas pada usia 18 tahun akan meningkatkan resiko untuk mendapat kanker ovarium sebelum menopause. Obesitas juga akan menyebabkan agresifitas dari kanker ovarium sehingga memperpendek waktu relaps dan menurunkan angka ketahanan hidup secara keseluruhan.
Beberapa wanita dengan kista ovarium yang tidak ditemukan gejala, tetapi kista ditemukan oleh dokter selama pemeriksaan pelvis. Pembentukan kista merupakan suatu bagian yang normal dari ovulasi pada wanita pra menopause. Meskipun begitu, kista yang terjadi setelah menopause memerlukan evaluasi lebih lanjut (4)
Tidak ada tes yang spesifik yang dapat membedakan secara akurat antara pertumbuhan kanker ovarium atau kista jinak/ganas. Meskipun demikian, karaktreristik-karakteristik di bawah ini dapat membantu menegakkan diagnosa:
• Ukuran kista. Kista yang ukurannya kurang dari 2 inci kecendrungan menjadi ganas adalah kecil. Tetapi semakin besar ukuran dari kista maka kecenderungan untuk menjadi ganas menjadi lebih besar. Resiko kanker ovarium dapat meningkat lebih dari 60% jika pertumbuhannya lebih dari 4 inci.
• Usia. Usia 50 tahun atau lebih memiliki kecenderungan keganasan 25% tapi jika mencapai usia 80 tahun, kemungkinan menjadi ganas menjadi lebih signifikan.
• Post menopause. Hanya sekitar 10% dari kista ovarium post menopause merupakan kista fungsional, sisanya dapat berupa tumor jinak/ganas.


Gambar 5. Perbedaan Kista Ovarium dan Kanker Ovarium


MANIFESTASI KLINIS
Karsinoma ovarium sering tidak menimbulkan gejala, sehingga disebut the silent killer (pembunuh diam). Gejala dan tanda umumnya menyerupai tumor ovarium jinak. Anemia dan penurunan berat badan biasanya baru terjadi pada tingkat lanjut. Tumor sel granulosa dan tumor sel teka yang memproduksi hormon akan menimbulkan pubertas prekoks pada anak, perdarahan abnormal pada masa reproduksi, dan perdarahan pada masa balik. Maskulinisasi dapat terjadi pada arenoblastoma.(1)
Pada stadium awal, kanker ovarium sering menjadi kondisi yang tenang, jika ada, tanda dan gejala akan sulit untuk diperhatikan. Tumor yang tumbuh di ovarium akan memberikan tekanan pada kandung kemih, usus besar, dan organ-organ lainnya pada rongga abdomen yang akan menimbulkan gejala yang sulit dibedakan dengan keadaan lain(4).
Banyak gejala akan menunjukkan kondisi berbahaya yang lain, tetapi jika gejala tersebut menetap maka akan dapat mengindikasikan adanya kanker ovarium, jika terdapat beberapa atau semua dari gejala ini(4):
- Pembesaran abdomen
- Nyeri abdomen
- Bloating
- Sukar menelan, kembung, atau mual
- Rasa tertekan pada pada pelvis
- Frequent urination
- Perubahan pola BAB yang tidak dapat dijelaskan
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
- Rasa penuh meskipun makan sedikit
- Perdarahan pervaginam yang abnormal
- Dispareunia

DIAGNOSIS

Tidak ada standarisasi dalam screening dalam mendeteksi kanker ovarium saat ini. Dokter melakukan pemeriksaan vagina, rektum, dan abdomen bagian bawah terhadap adanya massa atau pertumbuhan. Berapapun usia seseorang, dijadwalkan untuk pemeriksaan pelvis setiap tahunnya. Apabila pasien telah diangkat uterusnya, namun masih memiliki ovarium, tetap dilaksanakan pemeriksaan pelvis setiap tahunnya (4).
Melihat topografi ovarium maka hampit tidak memungkinkan kita melakukan deteksi dini tumor ganas ovarium oleh karena letaknya sangat tersembunyi. Diagnosis didasakan atas 3 gejala/tanda yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut :
a). Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar.
b). Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh perlekatan peritoneal dan bermanifestasi adanya ascites.
c). Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme; gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.


Gambar 6. Penyebaran kanker ovarium melalui sistem limfatik. Jalur penyebaran primer pada nodus limpatikus pelvis dan paraaorta.
Diagnosa penunjang yang dapat dilaksanakan pada kasus kanker ovarium yang dapat digunakan antara lain:
1. Ultrasonography
2. CT Scan
3. Barium Enema (untuk melihat adanya gambaran area yang abnormal atau tumor, apabila sudah ada proses desak ruang ke organ lain)
4. Intra Venous Pyelography (bila ada gangguan/penekanan ke traktus urinarius)
Pengukuran substansi CA-125 dalam darah. Substansi ini disebut tumor marker, dapat diproduksi oleh sel-sel kanker ovarium. Bagaimanapun, CA-125 tidak selalu hadir pada wanita dengan kanker ovarium, dan CA-125 kemungkinan dapat muncul pada wanita dengan kondisi ovarium yang jinak. Test darah ini tidak dapat digunakan sendiri untuk mendiagnosa kanker ovarium(8). Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histopatologik. Penyebaran umumnya terjadi secara cepat dan langsung (per kontinuitatum), tetapi dapat pula secara implantasi di peritoneum kavum Douglas dan diafragma. Kelenjar limfa regional merupakan kelenjar hipogastrik (obturator), iliaka, sakrum, praaorta, dan inguinal(1,8).
Apabila hasil pemeriksaan pelvis diduga kanker ovarium, maka diperlukan operasi untuk diagnosa. Prosedur ini disebut dengan laparotomi, yaitu dengan mengeksplorasi kavum abdomen untuk mencari keberadaan kanker. Jika diagnosa kanker telah pasti, maka ahli bedah dan ahli Patologi Anatomi dapat mengidentifikasi tipe dan penyebaran dari tumor tersebut. Hal ini akan membantu untuk menentukan stadium kanker dan untuk penatalaksanaan kanker (4).

Gambar 7. Kanker ovarium sulit untuk didiagnosa pada stadium awal sampai kanker tersebut telah menyebar melalui sistem limfe atau secara langsung ke organ lain

KLASIFIKASI
Klasifikasikasi menurut FIGO(2) :
• Stage I – Pertumbuhan terbatas pada ovarium
o Stage Ia – Pertumbuhan terbatas pada 1 ovarium, tidak ada ascites, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul intak
o Stage Ib – Pertumbuhan pada kedua ovarium, tidak ada ascites, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul intak
o Stage Ic - Tumor sama dengan grade Ia atau Ib tetapi ada tumor pada permukaan salah satu atau kedua ovarium, kapsul ruptur, adanya ascites dengan adanya sel-sel keganasan
• Stage II – Pertumbuhan temasuk salah satu atau kedua ovarium dengan ekstensi pelvis
o Stage IIa - Ekstensi dengan/atau metastase ke uterus atau tuba
o Stage IIb - Ekstension pada jaringan pelvis lainnya
o Stage IIc - Stage IIa atau IIb tetapi dengan tumor pada permukaan salah satu atau kedua ovarium, kapsul ruptur, ascites dengan sel-sel keganasan
• Stage III - Tumor pada salah satu atau kedua ovarium dengan implan pada peritoneal di luar pelvis dan/atau nodus inguinal retroperitoneal; metastase liver superficial sama dengan stage III
o Stage IIIa - Tumor terbatas pada pelvis, tidak ada nodus limfe tetapi histologi membuktikan adanya kerusakan mikroskopis pada permukaan peritoneal abdomen
o Stage IIIb – Konfirmasi adanya implan di luar pelvis pada permukaan peritoneal abdomen; tidak ada implan dengan diameter lebih 2 cm dan tidak ada pada nodus limfe
o Stage IIIc – Implan pada abdomen lebih besar dari 2 cm dengan/atau positif pada nodus limfe
• Stage IV – Metastase jauh; effusi pleura harus positif pada pemeriksaan sitologi; metastase pada parenkim hati


Gambar 8. Penyebaran Kanker Ovarium ke organ lain

Gambar 9. Penyebaran kanker ovarium pada peritoneum

Gambar 10. Transvaginal dan sonogram Doppler pada kanker ovarium stadium I

PENATALAKSANAAN

Umumnya pengelolaan tumor ganas ovarium didasarkan atas tingkat klinis, jenis tumor, dan gambaran histopatologik. Pada tingkat klinis I dan II dilakukan pembedahan dasar dengan pengangkatan uterus, adneksa, omentum, dan apendiks. Pada tingkat klinis III dan IV dilakukan pembedahan dasar ditambah dengan pengangkatan tumor sebanyak mungkin, dan sebagai terapi lanjutan diberikan kemoterapi. Radiasi dianggap efektif pada tumor yang sensitif terhadap sinar. Dapat pula diberikan terapi gabungan radiasi dan kemoterapi.(1)


Gambar 11. Transvaginal doppler sonogram memperlihatkan massa solid pada ovarium kiri. Impedansi yang rendah terlihat pada massa tersebut yang menunjukkan suatu kanker ovarium

Jika seseorang masih menginginkan untuk mempunyai anak dan apabila tumornya terdiagnosa pada stadium awal, maka ahli bedah akan membuang ovarium dan tuba fallopii yang terdapat kanker ovariumnya saja, sedangkan ovarium dan tuba fallopii lainnya akan dipertahankan, namun keadaan ini jarang. Kebanyakan tipe tumor akan mengenai kedua ovarium dan bahkan uterus, tuba fallopii, kelenjar getah bening terdekat, dan lipatan jaringan lemak seperti omentum, tempat di mana kanker ovarium sering bermetastase. Ahli bedah akan mengambil sampel dari jaringan ikat dan cairan dari abdomen untuk memeriksa adanya sel kanker. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi stadium dari kanker dan menentukan apakah seseorang memerlukan terapi tambahan. Setelah terapi bedah, maka dilakukan pula terapi kombinasi dengan obat-obatan. Kombinasi obat-obatan terbaru menunjukkan peningkatan harapan hidup. Selama bertahun-tahun, terapi standar pada kanker ovarium adalah kombinasi dari 2 kemoterapi, yaitu cisplati (Platinol) dan cyclophospamide (Cytoxan)(3,4). Sekarang ini, kombinasi obat-obatannya yaitu cisplatin atau carboplatin (Paraplatin) dengan obat paclitaxel (Taxol) dapat meningkatkan angka harapan hidup pada wanita dengan kanker ovarium (4,5).
Efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan kemoterapi: (6)
o Mual dan muntah
o Kehilangan napsu makan
o Kerontokan rambut
o Ruam-ruam pada tangan dan kaki
o Kerusakan ginjal atau saraf
o Nyeri di daerah mulut
o Meningkatnya kemungkinan infeksi
o Perdarahan akibat luka yang kecil
o Kelemahan

PENCEGAHAN

Beberapa faktor yang menekan resiko terkena kanker ovarium antara lain :
• Kontrasepsi oral (Pil pengontrol kehamilan). Penggunaan kontrasepsi oral dapat menurunkan resiko wanita terkena kanker ovarium sekitar 60%. Penggunaannya sekurang-kurangnmya 5 tahun.
• Ibu menyusui dan kehamilan. Melahirkan satu anak atau lebih, terutama jika anak pertama lahir sebelum berusia 30 tahun dan menyusui dapat menurunkan resiko terkena kanker ovarium.
• Histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan uterus. Tergantung kondisi seseorang, ahli bedah dapat juga mengangkat organ dan jaringan ikat lain yang berhubungan dengan uterus. Dokter menyebutkan bahwa seseorang tidak perlu melakukan histerektomi hanya untuk menghindari resiko ia terkena kanker ovarium, tapi jika ia melakukan histerektomi untuk alasan medis seperti memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker ovarium atau kanker payudara atau berusia lebih dari 40 tahun maka ia dapat mengkonsultasikan dengan dokter untuk melakukan pengangkatan ovarium.
• Ligasi Tuba. Pada prosedur operasi ini tuba fallopii telah diikat untuk mencegah kehamilan. Ligasi tuba tidak melindungi secara maksimal terhadap kanker ovarium.

Bagimana angka kesembuhan kanker ovarium??

PROGNOSIS
Secara keseluruhan prognosis kanker ovarium jelek, dengan tingkat rata-rata bertahan 5 tahun sebesar 50%. Sekitar 15.000 wanita meninggal setiap tahunnya di Amerika Serikat akibat kanker ovarium. Prognosis kanker ovarium berhubungan erat dengan stadium pada saat terdiagnosis. (2)
Tingkat survival lima tahun sebagai berikut: (2)
o Stadium I 73%
o Stadium II 45%
o Stadium III 21%
o Stadium IV kurang dari 5%


Tabel 3. Angka harapan hidup kanker ovarium di Amerika Serikat


DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong (ed). Tumor Ganas Ovarium. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi. Jakarta, Penerbit EGC. 1997; 990-2
2. Garcia AA. Ovarian Cancer. eMedicine, 2004. Available at URL: http://www.emedicine.com/med/topic1698.htm
3. Tjay TH, Kirana Rahardja. Sitostatika. Dalam: Obat-obat Penting. Jakarta, Elex Media Komputindo. 2002; 205-27
4. Mayo Clinic Staff. Ovarian Cancer. MayoClinic.Com, 2003. Available at URL: http://www.mayoclinic.com
5. ACS. Chemoterapy After Surgery for Ovarian Cancer May Save Lives. American Cancer Society, 2004. Available at URL: http://www.cancer.org
6. ACS. How Is Ovarian Cancer Treated. American Cancer Society, 2003. Available at URL: http://www.cancer.org
7. Farlex. Ovarian Cancer. The Free Dictionary, 2004. Available at URL: http://www.TheFreeDictionary.com
8. National Cancer Institute. Diagnosis and Staging, 2004. Available at URL: http://www.cancerlinksusa.com/ovary/wynk/diagnosis.htm

Read More